Pernahkah Anda merasa bingung saat memilih minuman atau makanan di depan etalase minimarket? Karena dihadapkan pada puluhan minuman atau makanan kemasan yang semuanya terlihat menggiurkan atau, saat memesan kopi Anda ragu seberapa banyak kandungan gula yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh? Apa sebenarnya kebijakan Nutri Level yang baru saja dirilis oleh Kemenkes? Lalu mengapa aturan Nutri Level ini dibuat?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru saja resmi menerbitkan aturan Nutri Level per 14 April 2026 lalu. Kebijakan ini hadir sebagai respons atas meningkatnya angka penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, obesitas, dan hipertensi di Indonesia. Sasarannya adalah produk pangan siap saji, khususnya industri besar seperti gerai minuman kekinian, kafe, hingga restoran besar. Pemerintah memberikan masa transisi selama dua tahun bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan diri sebelum aturan ini menjadi kewajiban penuh. Tujuannya sederhana membuat kita sebagai konsumen lebih bijak dalam memilih apa yang kita konsumsi setiap harinya dengan panduan label yang mudah dipahami, layaknya melihat rambu lalu lintas.
Apa Itu Nutri Level?
Bayangkan Nutri Level seperti lampu lalu lintas pada makanan dan minuman kita. Kemenkes membagi profil Kesehatan suatu produk berdasarkan kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) ke dalam empat kategori huruf dan warna. Berikut penjelasan singkatnya:
- Level A (Hijau Tua)
Level A merupakan produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang paling rendah. Ini adalah “lampu hijau” atau pilihan yang paling aman untuk dikonsumsi.
- Level B (Hijau Muda)
Level B merupakan produk pilihan yang masih masuk kategori sehat atau cukup baik, namun tetap perlu dikontrol porsinya.
- Level C (Kuning)
Level C merupakan produk dengan kategori “Peringatan Bagi Konsumen”, kandungan GGL mulai tinggi, sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan.
- Level D (Merah)
Level D merupakan produk dengan kategori “Lampu Peringatan Keras”. Produk ini memiliki kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi. Sehingga konsumsinya harus sangat dibatasi atau dihindari jika Anda memiliki resiko kesehatan.
Pemberian label ini bukan berarti produk tersebut dilarang untuk dibeli, melainkan menjadi “lampu peringatan” bagi kita sebagai konsumen. Selama ini, informasi gizi seringkali tersembunyi di balik tulisan kecil yang rumit atau bahkan tidak ada sama sekali pada produk fresh brew seperti kopi atau teh susu. Dengan adanya Nutri Level, informasi tersebut kini terpampang nyata dan mudah dipahami oleh siapa saja, bahkan oleh anak–anak sekolah sekalipun.
Mengapa Aturan Ini Penting Bagi Kita?
Kita hidup di era di mana “makanan manis” dan “makanan gurih” menjadi gaya hidup. Tanpa kita sadari satu gelas minuman boba atau kopi susu gula aren mengandung gula yang setara dengan asupan maksimal harian kita. Dampaknya tidak terjadi secara instan, melainkan akumulasi setelah bertahun–tahun inilah yang kemudian memicu penderita diabetes di usia muda.
Aturan Nutri Level memaksa industri untuk lebih bertanggung jawab. Produsen kini dituntut untuk berinovasi menciptakan produk yang lebih rendah gula atau garam agar produk mereka tidak “diwarnai merah” oleh label Kemenkes. Ini adalah tekanan positif yang mendorong pasar untuk bergeser ke arah yang lebih sehat tanpa harus menghilangkan kenikmatan kuliner itu sendiri.
Membangun Kebiasaan Baru Untuk Masa Depan
Bagi sebagian masyarakat awam perubahan ini mungkin terasa asing. Namun, inilah saatnya bagi kita untuk mulai berlatih menjadi konsumen yang lebih kritis. Jangan hanya melihat merek atau harga, tapi mulailah melihat “label” pada kemasan sebelum membeli suatu produk. Kesehatan adalah aset jangka panjang yang paling berharga, dan mulai saat ini, pilihan ada di tangan Anda setiap kali membaca label di kemasan makanan atau minuman.
Memilih untuk tidak membeli produk dengan label “Merah” mungkin terlihat seperti hal sepele. Namun, bayangkan dampaknya dalam lima, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Keputusan–Keputusan kecil yang Anda ambil di depan rak minimarket atau saat memesan menu di kafe adalah investasi untuk tubuh Anda sendiri. Anda sedang memutuskan apakah Anda ingin memberikan bahan bakar yang berkualitas untuk tubuh atau justru beban yang berlebih. Dengan memanfaatkan Nutri Level, kita memiliki alat bantu yang efektif untuk memfilter apa yang masuk ke dalam tubuh kita.
Saat Anda mulai terbiasa melihat warna–warni Nutri Level, Anda akan menyadari bahwa pola makan yang lebih sehat sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Ini bukan tentang pola makan yang menyiksa, melainkan tentang keseimbangan dan kesadaran dalam memilih. Mari kita sambut kebijakan ini sebagai langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat.
Referensi :
- Permenkes No HK.01.07/301/2026. Kemenkes
- Kemenkes Terbitkan Aturan Untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih | Satu Sehat Kemenkes


