Belakangan, publik ramai membahas kabar mengenai minuman rasa susu yang diduga menjadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Isu ini memicu perhatian luas, terutama dari sudut pandang kesehatan dan kualitas gizi anak.
Terlepas dari polemik yang berkembang, diskusi paling penting seharusnya berfokus pada satu hal mendasar: apakah produk tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak?
Minuman Rasa Susu Tidak Sama dengan Susu
Dalam ilmu gizi, istilah “susu” memiliki makna yang jelas. Susu sapi dikenal sebagai sumber:
- Protein berkualitas tinggi
- Kalsium untuk pertumbuhan tulang dan gigi
- Lemak yang mendukung perkembangan otak
Sementara itu, minuman rasa susu adalah kategori berbeda. Berdasarkan informasi label yang beredar di publik, komposisinya didominasi oleh air, dengan kandungan susu yang sangat kecil, protein rendah, dan gula yang relatif lebih tinggi.
Perbedaan ini penting, karena fungsi nutrisi susu tidak dapat digantikan hanya dengan rasa atau aroma susu.
Masalah Gizi: Kenyang Tidak Selalu Bergizi
Dokter dan ahli gizi kerap menekankan satu hal penting:
rasa kenyang tidak selalu berarti kebutuhan gizi terpenuhi.
Minuman dengan kandungan protein yang rendah berisiko menyebabkan:
- Anak merasa kenyang sementara (kenyang semu)
- Asupan protein harian tidak tercapai
- Kebutuhan kalsium dan lemak esensial terabaikan
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan fisik, kesehatan tulang, serta perkembangan kognitif anak.
Peran Susu dalam Program Gizi Anak
Dalam konteks program gizi, susu seharusnya berfungsi sebagai intervensi nutrisi, bukan sekadar pelengkap menu.
Secara umum, susu dalam program gizi anak berperan untuk:
- Mendukung pertumbuhan jaringan tubuh melalui protein
- Memperkuat tulang dan gigi lewat kalsium
- Menyediakan energi dan lemak esensial
Jika produk yang disajikan tidak memenuhi fungsi-fungsi tersebut, maka tujuan perbaikan gizi tidak tercapai secara optimal.
Mengapa Kualitas Gizi Harus Jadi Fokus Utama
Program gizi, termasuk MBG, pada dasarnya dirancang untuk menjawab masalah kekurangan gizi dan ketimpangan asupan nutrisi pada anak. Oleh karena itu, kualitas nutrisi tidak bisa diturunkan hanya demi kemudahan distribusi atau efisiensi teknis.
Setiap menu yang disajikan seharusnya:
- Memiliki kandungan gizi yang jelas dan terukur
- Memberikan manfaat nyata bagi kesehatan anak
- Sesuai dengan prinsip gizi seimbang
Tanpa itu, program gizi berisiko kehilangan esensinya.
Kesimpulan
Isu “minuman rasa susu” yang ramai diperbincangkan seharusnya menjadi pengingat penting bahwa dalam program gizi anak, kualitas nutrisi adalah hal utama.
Susu bukan soal rasa, kemasan, atau istilah di label.
Susu adalah fungsi nutrisi.
Dan dalam konteks gizi anak, standar nutrisi tidak boleh dikompromikan.
Baca Juga: Polemik Kandungan Susu dalam Program Makan Bergizi Gratis

