Penyakit campak saat ini menjadi suatu wabah yang tengah menghebohkan masyarakat di Indonesia. Sebanyak 2.035 kasus infeksi campak ditemukan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dengan 17 anak (0,8%) meninggal dunia.
Epidemi campak tercatat pertama kali melanda Boston, Massachusetts pada tahun 1629. Mengapa hingga saat ini campak masih menjadi permasalahan yang meresahkan? Yuk, simak penjelasan berikut!
Penyakit Campak yang Menyerang Anak-anak
Pada bulan Agustus 2025 ini, KLB (Kejadian Luar Biasa) campak kembali meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dibuktikan dengan ditemukannya 46 KLB campak terjadi di wilayah Sumatera Utara, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan masih banyak lagi. Pernyataan KLB ini dikeluarkan apabila terdapat 5 atau lebih kasus dalam 4 minggu secara mengelompok dan terjadi berturut-turut.
Campak merupakan penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak yang termasuk dalam genus Morbilivirus dan golongan paramyxovirus. Penularan campak dapat terjadi sejak awal masa prodromal hingga 4 hari setelah munculnya ruam. Masa inkubasi virus ini adalah selama 10-14 hari.Usia terbanyak penderita campak yaitu anak <12 bulan, diikuti dengan usia 1-4 tahun dan kelompok usia 5-15 tahun
Faktor Risiko dan Penyebab Infeksi Campak
Sementara itu, penularan virus perlu diwaspadai, antara lain melalui percikan ludah atau droplet (berbicara, batuk, dan bersin), kontak langsung dengan penderita, benda terkontaminasi (sendok, gagang pintu, atau barang lainnya yang disentuh bersama), serta udara (sirkulasi buruk dan ruangan tertutup menyebabkan virus bertahan hingga 2 jam di ruangan).
Beberapa faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit campak, yaitu
- Kondisi gizi kurang pada anak
- Kekurangan vitamin A
- Kekebalan tubuh anak yang rendah karena adanya komplikasi penyakit.
Gejala yang Menyertai
Untuk mengetahui gejala campak pada anak, kenali 3 stadium gejala klinis campak yang dapat dirasakan sebagai berikut:
1. Stadium Prodromal
Beberapa gejala yang muncul pada stadium ini yaitu adanya demam, batuk pilek, konjungtivitis, stomatitis, dan terdapat nyeri menelan. Selain itu, bercak koplik atau bintik putih kecil juga sering muncul dalam mulut. Umumnya stadium ini berlangsung selama 2-4 hari.
2. Stadium Erupsi
Stadium ini ditandai dengan munculnya gejala seperti ruam di batas rambut belakang telinga, yang menyebar ke bagian wajah, leher, dan ekstremitas. Bercak makulopapular atau ruam kulit sebagai tanda dari stadium ini biasanya timbul pada hari ke 5-6.
3. Stadium Penyembuhan
Stadium pemulihan ditandai setelah ruam yang berlangsung 3 hari mulai berkurang sesuai dengan urutan munculnya. Berkurangnya ruam dimulai dengan menghitamnya bagian kulit hingga mengelupas dan menghilang setelah 1-2 minggu.
Sejumlah komplikasi juga dapat terjadi pada kasus campak yang cukup parah, yaitu gangguan sistem pernafasan seperti pneumonia, diare, ensefalitis, dan infeksi telinga. Pada ibu hamil, campak dapat menyebabkan lahirnya bayi prematur, bayi baru lahir dengan campak, keguguran, dan kematian saat lahir.
4 Cara Bunda Menjaga Anak Terhindar dari Campak

Terdapat beberapa langkah pencegahan campak pada anak yang dapat diterapkan untuk menjaga anak terhindar dari campak, antara lain
1. Imunisasi Campak
Penyakit campak disebut sebagai vaccine-preventable illness atau dapat dicegah dengan penggunaan vaksin. Imunisasi dapat diberikan pada bayi 9 bulan, dengan imunisasi ulang saat usia 12-18 bulan dan 5-7 tahun. Pada orang dewasa yang belum imunisasi, vaksin campak diberikan 2 dosis dengan jarak antar dosis 28 hari.
2. Menggunakan Masker dan Mencuci Tangan
Penyebaran virus campak dapat melalui percikan droplet dan penggunaan barang-barang bersama penderita. Oleh sebab itu, dalam kondisi wabah dan terdapat penderita di sekitar kita, selalu pastikan anak menggunakan masker dan mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin setelah memegang barang.
3. Hindari Berbagi Barang Pribadi
Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus melalui penggunaan barang bersama. Beberapa barang pribadi yang perlu untuk digunakan individu yaitu seperti alat makan, mainan, dan barang lainnya.
4. Menjaga Kebersihan Lingkungan
Kebersihan barang-barang di rumah maupun lingkungan tempat anak bermain turut berpengaruh dalam melindungi anak dari infeksi dan penyakit. Langkah yang bisa dilakukan bunda yaitu rutin menjaga kebersihan lingkungan dan rutin membersihkan barang yang disentuh anak dengan desinfektan.
Pentingnya Imunisasi Campak
Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang terjadi di Jawa Timur diduga disebabkan karena rendahnya cakupan imunisasi campak di daerah tersebut. Tidak sedikit yang termakan hoax “Vaksin haram” sehingga mengurungkan niatnya untuk imunisasi.
Nyatanya, pemberian vaksin campak turut berkontribusi dalam menurunkan angka kematian hingga 73% pada tahun 2000-2018 di seluruh dunia. Bahkan berdasarkan studi, dosis pertama campak berperan dalam mencegah 95% kasus dan apabila dosis kedua ditambahkan akan dapat mencegah 99% kasus infeksi campak.
Menyikapi Hoax “Vaksin Haram” di Masyarakat
Adanya misinformasi yang beredar terkait haramnya vaksin campak sebetulnya telah dibahas oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa penggunaan vaksin Measless Rubella (MR) telah diperbolehkan.
Hal ini didasarkan oleh kondisi dlarurat syar’iyyah, terdapat bahaya yang timbul apabila tidak diimunisasi, dan terdapat keterangan dari ahli yang kompeten. Dengan adanya Fatwa tersebut, MUI turut menghimbau masyarakat untuk tidak ragu lagi dalam membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi.
Nah, itu dia informasi terkait campak, penyebab dan gejala, pencegahan, dan pentingnya imunisasi campak bagi anak. Yuk, cegah campak pada anak sebagai investasi kesehatan anak di masa depan!
Baca Juga: Kunci Pulih dari TBC, Pemeriksaan dan Penanganan yang Tepat!
Referensi
- Wabah Campak di Sumenep Capai 2 Ribu Kasus, 17 Anak Meninggal Dunia | CNN Indonesia
- KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap | Kemenkes RI
- Fatwa MUI Bolehkan Imunisasi Campak dan Rubella, Kemenkes Fokus Turunkan Beban dan Dampak Penyakit Tersebut | Kemenkes RI
- Wabah campak di Sumenep renggut nyawa 17 anak, cakupan imunisasi rendah karena hoaks ‘vaksin haram’? | BBC News Indonesia
- Campak – Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya | Biofarma
- Measles (2019), JAMA Dermatology
- Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Campak (2021), Jurnal Medika Hutama
- Aspek Klinis, Diagnosis, dan Tatalaksana Campak pada Anak (2021), Jurnal Kedokteran Nanggroe Medika
- Ongoing Measles in the Developed and Developing World | Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society (2024), Journal of The Pediatric Infectious Diseases Society
Editor: Eka Putra Sedana