Tidak sedikit orang tua yang menganggap anak yang pilih-pilih makanan hanya sedang “rewel” atau sulit diatur sehingga tidak jarang juga anak dipaksa menghabiskan makanan atau hanya diberikan makanan yang disukainya agar tetap mau makan. Padahal, kondisi ini dikenal sebagai picky eater yang cukup sering terjadi terutama pada anak usia balita hingga prasekolah, ketika mereka sedang membentuk kebiasaan makan. Meskipun demikian, picky eater yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi kecukupan asupan zat gizi sehingga perlu mendapat perhatian. Menariknya, penyebab picky eater tidak muncul begitu saja. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Apa saja penyebabnya? Simak penjelasan berikut ini!
Apa Itu Picky Eater?
Picky eater merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang cenderung pilih-pilih makanan. Anak dengan kondisi ini biasanya hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu, menolak mencoba makanan baru, atau enggan makan makanan dengan rasa, aroma, maupun tekstur yang tidak disukainya.
Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir hingga memaksa anak makan atau selalu menuruti makanan favoritnya. Padahal, tidak semua anak yang picky eater mengalami gangguan makan. Dalam dunia medis, terdapat kondisi yang lebih serius, yaitu Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), yang ditandai dengan pembatasan makan hingga menyebabkan kekurangan zat gizi, penurunan berat badan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab Anak Menjadi Picky Eater dari Sudut Pandang Ilmiah
1. Sensitivitas terhadap Rasa dan Tekstur Makanan
Salah satu penyebab utama picky eater adalah sensitivitas sensorik. Anak yang lebih sensitif terhadap rasa, aroma, dan tekstur makanan cenderung lebih mudah menolak makanan tertentu sehingga memiliki risiko lebih tinggi menjadi picky eater.
Temuan dari penelitian jangka panjang Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) menunjukkan bahwa pengalaman makan sejak dini turut berperan. Anak yang mengalami kesulitan makan sejak bayi atau terlambat dikenalkan makanan bertekstur (setelah usia 9 bulan) lebih berisiko menjadi picky eater saat usia prasekolah. Oleh karena itu, masa MPASI menjadi periode penting untuk mengenalkan berbagai jenis dan tekstur makanan.
2. Penggunaan Garam dan Gula saat MPASI
WHO menyarankan agar anak tidak diberi tambahan garam dan gula sebelum usia 2 tahun. Setelah itu, konsumsinya tetap perlu dibatasi karena terlalu banyak garam dan gula dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan gigi berlubang.
Perlu diingat, bayi dan anak sebenarnya tidak membutuhkan tambahan garam maupun gula. Berbagai bahan makanan, seperti buah, sayuran, daging, ikan, susu, dan umbi-umbian, sudah mengandung gula dan natrium alami. Kandungan alami tersebut sudah cukup membantu anak mengenal rasa asli makanan, sehingga mereka dapat terbiasa menikmati makanan tanpa tambahan garam atau gula berlebihan.
3. Food Neophobia atau Takut Mencoba Makanan Baru
Memasuki usia balita, banyak anak mulai memasuki fase food neophobia, yaitu fase ketika anak mulai menolak makanan yang belum pernah dicobanya. Kondisi ini umum terjadi pada balita, terutama sebelum usia 2 tahun, dan biasanya lebih terlihat pada usia 2–6 tahun saat anak mulai ingin menentukan pilihan makanannya sendiri.
Orang tua tidak perlu terlalu khawatir karena food neophobia merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal dan umumnya akan membaik seiring bertambahnya usia. Yang terpenting, terus kenalkan makanan baru secara bertahap tanpa paksaan dan ciptakan suasana makan yang menyenangkan agar anak lebih mudah menerima berbagai jenis makanan.
4. Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua turut memengaruhi risiko anak menjadi picky eater. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis cenderung lebih mudah menerima berbagai jenis makanan. Hal ini karena orang tua membiasakan anak makan tepat waktu, mengenalkan makanan yang beragam, serta memberikan arahan tanpa paksaan.
Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif lebih berisiko mengalami picky eater. Pada pola asuh ini, orang tua cenderung membebaskan anak memilih makanan sesuai keinginannya, sehingga anak lebih sering mengonsumsi makanan favorit, tidak mau mencoba makanan baru, dan memiliki pola makan yang kurang beragam.
5. Lingkungan dan Kebiasaan Keluarga
Anak belajar melalui proses meniru. Beberapa kebiasaan makan dalam keluarga diketahui dapat membantu menurunkan risiko picky eater. Anak yang terbiasa makan buah segar dan mengonsumsi makanan yang sama dengan anggota keluarga cenderung lebih mudah menerima berbagai jenis makanan. Sebaliknya, kebiasaan memberikan makanan siap saji lebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko anak menjadi picky eater di kemudian hari.
6. Kondisi Kesehatan Tertentu
Pada beberapa kasus, picky eater dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan pemrosesan sensorik, alergi makanan, gangguan saluran cerna, hingga gangguan perkembangan tertentu.
Jika anak mengalami penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, sering tersedak saat makan, atau hanya mau mengonsumsi sangat sedikit jenis makanan dalam waktu lama, sebaiknya dilakukan evaluasi oleh tenaga kesehatan.
Tips Mengatasi Anak yang Picky Eater!
1. Variasikan Makanan sejak MPASI
Cobalah sajikan menu yang bervariasi, mulai dari sayur, buah, protein hewani, protein nabati, hingga sumber karbohidrat. Semakin sering anak diperkenalkan pada beragam rasa dan jenis makanan sejak dini, semakin besar peluangnya untuk menerima makanan tersebut di kemudian hari.
Saat menyusun satu menu, usahakan menggabungkan beberapa jenis makanan, seperti karbohidrat, lauk, dan sayur, dalam satu hidangan. Kebiasaan ini dapat membantu anak tidak membedakan makanan berdasarkan rasa, seperti manis dari karbohidrat atau aroma khas dari protein hewani.
2. Kenalkan Rasa Alami Makanan pada Anak
Perlu diperhatikan, hindari menambahkan garam dan gula pada makanan anak, terutama sebelum usia 2 tahun. Bahan makanan seperti buah, sayuran, daging, ikan, telur, dan susu sudah mengandung gula serta natrium alami. Pilih bahan seperti ikan kembung dan bandeng yang memiliki rasa asin alami sedangkan udang, jagung, wortel, dan buah-buahan yang memiliki rasa manis alami. Dengan membiarkan anak mengenal rasa asli makanan sejak dini, mereka akan lebih terbiasa menikmati makanan tanpa tambahan garam atau gula berlebihan, sekaligus membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat di kemudian hari.
3. Sesuaikan Tekstur Makanan sesuai Usianya
Selain variasi makanan, tekstur juga perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Mulailah dari makanan yang lembut, lalu tingkatkan secara bertahap menjadi lebih kasar sesuai kemampuan mengunyahnya. Pengenalan tekstur yang tepat dapat membantu anak lebih mudah beradaptasi dengan berbagai jenis makanan saat bertambah besar.
4. Terapkan Variasi Menu dan Jadwal yang Teratur
Sajikan menu yang berbeda setiap hari agar anak terbiasa dengan variasi makanan. Di samping itu, terapkan jadwal makan dan camilan yang teratur. Rutinitas ini membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang, sekaligus mengurangi kebiasaan ngemil yang dapat menurunkan nafsu makan saat waktu makan tiba.
5. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan
Sesekali, libatkan anak saat memilih bahan makanan, mencuci sayuran, atau menata hidangan di meja makan. Kegiatan sederhana ini dapat membuat anak lebih tertarik dan penasaran untuk mencoba makanan yang mereka bantu siapkan.
6. Buat Suasana Menyenangkan saat Makan
Hindari memaksa atau memarahi anak ketika menolak makanan. Sebaliknya, buat waktu makan menjadi momen yang menyenangkan tanpa tekanan. Orang tua juga dapat memberikan contoh dengan menikmati makanan yang sama, karena anak cenderung meniru kebiasaan makan orang-orang di sekitarnya. Dengan kesabaran dan konsistensi, anak biasanya akan lebih berani mencoba makanan baru seiring bertambahnya usia.
Referensi
- Batasi Gula dan Garam untuk MPASI | Kemenkes RI
- Decoding Picky Eating in Children: A Temporary Phase or a Hidden Health Concern? (2025), Nutrients
- Neophobia- A Natural Developmental Stage or Feeding Difficulties for Children? (2022), Nutrients
- Picky eating in children: causes and consequences (2019), The Proceedings of the Nutrition Society
- The Use of Added Salt and Sugar in the Diet of Polish and Austrian Toddlers. Associated Factors and Dietary Patterns, Feeding and Maternal Practices (2020), International journal of environmental research and public health
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


