Pernah tidak, baru saja selesai makan tetapi tiba-tiba ingin ngemil ketika melihat gorengan, kue, atau makanan favorit? Padahal perut sebenarnya belum terasa kosong. Apalagi kalau makanan tersebut terlihat menggoda atau aromanya tercium dari kejauhan. Rasanya seperti ada dorongan untuk makan meski sebelumnya sudah merasa kenyang.
Kondisi seperti ini sering disebut sebagai “lapar mata”. Namun, sebenarnya apa bedanya lapar karena tubuh membutuhkan makanan dengan sekadar ingin makan karena tergoda? Ternyata, tubuh memiliki berbagai sinyal yang membantu mengatur rasa lapar dan kenyang.
Lapar Tidak Selalu Berarti Perut Kosong
Rasa lapar merupakan bagian dari mekanisme tubuh untuk memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi. Ketika tubuh membutuhkan asupan makanan, otak akan menerima berbagai sinyal dari sistem pencernaan dan jaringan tubuh. Salah satu hormon yang berperan dalam proses ini adalah ghrelin, yang banyak diproduksi di lambung.
Ketika kadar ghrelin meningkat, otak dapat menerima sinyal yang mendorong munculnya rasa lapar dan keinginan untuk makan. Sebaliknya, setelah makan, tubuh mengirimkan berbagai sinyal yang membantu menimbulkan rasa kenyang.
Artinya, rasa lapar bukan sekadar soal “perut berbunyi”. Ada komunikasi yang cukup kompleks antara saluran pencernaan dan otak untuk mengatur kapan tubuh perlu makan dan kapan sudah cukup.
Lalu, Apa Itu “Lapar Mata”
Berbeda dengan lapar fisiologis, keinginan makan juga dapat muncul karena rangsangan dari lingkungan. Misalnya, melihat makanan di media sosial, mencium aroma ayam goreng, melewati toko roti, atau melihat teman sedang menikmati camilan.
Dalam kondisi tersebut, seseorang bisa saja sebenarnya tidak sedang lapar, tetapi tetap memiliki keinginan untuk makan. Inilah yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut sebagai “lapar mata”.
Keinginan makan seperti ini bukan berarti tubuh sedang kekurangan energi. Makanan yang terlihat menarik, aroma yang menggugah selera, bahkan kebiasaan makan pada waktu tertentu dapat membuat kita ingin makan meskipun tubuh belum benar-benar membutuhkan makanan.
Kenapa Sudah Kenyang, tetapi Masih Ingin Makan?
Ini yang sering membuat bingung. Kalau sudah kenyang, mengapa masih ingin makan?
Jawabannya, kenyang tidak selalu berarti keinginan makan langsung hilang.
Otak juga memberikan respons terhadap berbagai karakteristik makanan, seperti rasa, aroma, tampilan, tekstur, dan seberapa menarik makanan tersebut. Karena itu, seseorang bisa saja sudah cukup makan tetapi tetap memiliki keinginan untuk menikmati makanan tertentu.
Penelitian mengenai makanan ultra-proses juga memberikan gambaran menarik. Dalam sebuah uji klinis terkontrol, peserta yang menjalani pola makan ultra-proses mengonsumsi lebih banyak energi dibandingkan ketika menjalani pola makan minim proses. Salah satu faktor yang diamati adalah kecepatan makan, yang lebih tinggi pada pola makan ultra-proses dan berkaitan dengan perbedaan asupan energi.
Kurang Tidur Juga Bisa Bikin Lebih Mudah Lapar
Bukan hanya makanan yang dapat memengaruhi keinginan makan. Tidur juga ternyata berkaitan dengan pola makan. Sebuah tinjauan sistematis Soltanieh et al. (2021) mengenai durasi tidur dan asupan makanan menemukan bahwa pembatasan tidur dapat berkaitan dengan peningkatan asupan energi, rasa lapar, nafsu makan, frekuensi makan, hingga ukuran porsi. Namun, menariknya, perubahan hormon seperti ghrelin dan leptin tidak selalu konsisten ditemukan dalam penelitian.
Penelitian lain oleh Fenton (2021) yang membahas hubungan kesehatan tidur dengan asupan makanan juga menunjukkan bahwa memperbaiki atau memodifikasi pola tidur dapat memengaruhi asupan energi, meskipun hasil antara penelitian tidak selalu sama.
Dengarkan Tubuh, Kenali Sinyalnya
Pada akhirnya, tubuh memiliki sistem yang membantu mengatur rasa lapar dan kenyang. Namun, sinyal tersebut dapat berinteraksi dengan lingkungan, kebiasaan, kondisi psikologis, tidur, hingga karakteristik makanan.
Jadi, lain kali tiba-tiba ingin mengambil camilan padahal baru saja makan, coba berhenti sebentar. Bisa jadi memang tubuh sedang membutuhkan makanan. Tapi bisa juga, sebenarnya mata yang lebih dulu lapar daripada perut.
Referensi
- Effect of sleep duration on dietary intake, desire to eat, measures of food intake and metabolic hormones: A systematic review of clinical trials (2021), Clinical nutrition ESPEN
- The influence of sleep health on dietary intake: a systematic review and meta-analysis of intervention studies (2021), Journal of human nutrition and dietetics : the official journal of the British Dietetic Association
- Ultra-Processed Diets Cause Excess Calorie Intake and Weight Gain: An Inpatient Randomized Controlled Trial of Ad Libitum Food Intake (2019), Cell metabolism
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


