Mitos Ibu Hamil Dilarang Makan Gurita, Antara Kepercayaan Budaya dan Fakta Gizi

Di berbagai penjuru Nusantara, ibu hamil kerap dihadapkan pada sejumlah pantangan makanan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang sering dijumpai adalah larangan mengonsumsi gurita (Octopus sp.) Kepercayan ini bukan sekedar cerita rakyat, ia tertanam kuat dalam praktik budaya masyarakat pesisir Indonesia dari Nusa Tenggara Barat, Suku Madura, Suku kamoro di Papua, hingga masyarakat Suku Kaili di Sulawesi Tengah. Padahal secara gizi gurita memiliki kandungan gizi yang baik untuk ibu hamil. Mari kita bahas lebih dalam!

Kepercayaan yang Beredar di Masyarakat

Larangan mengonsumsi gurita selama kehamilan dilatarbelakangi oleh berbagai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tentakel gurita yang memiliki kemampuan menempel diyakini dapat menyebabkan plasenta atau ari-ari melekat kuat pada dinding rahim sehingga sulit dikeluarkan saat persalinan. Ada pula kepercayaan bahwa bentuk tentakel gurita yang panjang dan melilit dapat menyebabkan bayi terlilit tali pusat, sulit dilahirkan, atau mengalami kelainan fisik.

Kepercayaan tersebut berkembang melalui cerita dari orang tua, tetua adat, hingga dukun beranak di sejumlah komunitas. Penelitian di Pulau Kei Besar, Maluku, yang dipublikasikan dalam BMC Nutrition (2024), menemukan bahwa gurita dan cumi-cumi termasuk makanan yang dihindari oleh sebagian ibu hamil karena diyakini dapat memengaruhi proses persalinan. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi gurita menyebabkan plasenta lengket, bayi terlilit tali pusat, maupun komplikasi persalinan lainnya.

Akar Kepercayaan dan Penyebarannya

Pantangan makanan selama kehamilan (food taboo) merupakan fenomena lintas budaya yang telah lama diteliti. Penelitian kualitatif di Pulau Kei Besar, Maluku (dipublikasikan di PMC/NCBI, 2024) menemukan bahwa lebih dari sepertiga responden menyebut gurita dan cumi-cumi sebagai makanan yang perlu dihindari selama kehamilan. Studi serupa di komunitas Suku Madura yang diterbitkan di ScienceDirect mengungkap filosofi di balik larangan ini, sifat “lengket” pada tentakel gurita dianggap secara simbolik akan menyebabkan plasenta menempel dan tidak bisa keluar dari rahim.

Kepercayaan ini tidak hanya berdimensi medis, tetapi juga sosial yang ditransmisikan oleh dukun beranak, orang tua, dan tetua adat. Sementara niatnya baik untuk melindungi ibu dan bayi, secara ilmiah tidak ada bukti yang mendukung hubungan antara konsumsi gurita dan komplikasi persalinan seperti yang dipercaya masyarakat.

Dampak Pantangan terhadap Status Gizi Ibu Hamil

Penelitian yang dipublikasikan di JMIR Formative Research (2023) menyoroti bahwa pantangan makanan berbasis budaya di berbagai wilayah Indonesia berkontribusi pada rendahnya kualitas asupan gizi ibu hamil. Ketika sumber protein hewani laut seperti gurita dihindari, ibu hamil berpotensi kehilangan asupan zat besi, asam amino esensial, dan asam lemak omega-3 yang sangat dibutuhkan selama masa kehamilan.

Kandungan Gizi Gurita dan Manfaatnya bagi Ibu Hamil

Secara ilmiah, gurita merupakan sumber pangan laut dengan profil nutrisi yang sangat baik untuk ibu hamil, selama dikonsumsi dalam keadaan matang sempurna. Berikut kandungan utama gurita dan manfaatnya:

1. Zat Besi (Fe): Mencegah anemia pada ibu hamil dan mendukung produksi hemoglobin untuk volume darah yang meningkat.

2. Omega-3 (DHA/EPA): Penting untuk perkembangan otak dan mata janin serta mendukung kesehatan kardiovaskular ibu.

3. Vitamin B12: Penting untuk perkembangan sistem saraf janin, sintesis DNA, dan produksi sel darah merah.

4. Protein: Membantu pembentukan sel, jaringan, dan organ janin serta mendukung pertumbuhan optimal.

5. Zinc dan Selenium: Mendukung imunitas, sintesis DNA janin, dan fungsi antioksidan selama kehamilan.

6. Magnesium & Kalium: Membantu fungsi otot, mengurangi risiko kram kehamilan, dan menjaga tekanan darah.

Rekomendasi

Ibu hamil dapat mengonsumsi gurita yang telah dimasak hingga matang sebagai bagian dari pola makan gizi seimbang. Cara memasak yang disarankan meliputi direbus, ditumis, atau dikukus. Hindari gurita mentah, setengah matang, atau yang diasinkan/difermentasi.

Risiko yang Perlu Dipertimbangkan

Meski kaya gizi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi gurita selama masa kehamilan. Gurita harus dimasak hingga matang sempurna untuk mencegah risiko infeksi bakteri dan parasit. Selain itu, beberapa spesies gurita dapat mengandung merkuri dalam kadar rendah hingga sedang, terutama yang berasal dari perairan tercemar. Ibu hamil disarankan mengonsumsi gurita dalam jumlah yang tidak berlebihan dan selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan atau ahli gizi.

Kepercayaan budaya memiliki nilai sosial yang penting, namun tidak boleh menjadi penghalang akses ibu hamil terhadap sumber gizi esensial. Petugas kesehatan dan ahli gizi memiliki peran kunci untuk meluruskan mitos secara empatik, bukan mengabaikan kearifan lokal, melainkan melengkapinya dengan pengetahuan ilmiah berbasis bukti demi kesehatan ibu dan generasi penerus bangsa.

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *