Di balik sorotan lampu stadion dan gemuruh suporter, ada satu profesi yang jarang disebut namun memainkan peran krusial dalam keberlangsungan performa atlet sepakbola: nutritionist. Ia bukan pelatih, bukan fisioterapis, bukan dokter tim. Namun, dari balik layar, ia merancang strategi makan yang menentukan apakah seorang pemain mampu bertahan 90 menit di lapangan atau tumbang di menit ke-60.
Dalam dunia sepakbola modern, stamina bukan lagi soal bakat atau latihan semata. Ia adalah hasil dari kalkulasi mikronutrien, waktu makan, hidrasi, dan pemulihan. Dan semua itu berada di bawah pengawasan seorang nutritionist.
Gizi Bukan Sekadar Kalori, Tapi Strategi
Seorang nutritionist di klub sepakbola tidak hanya menghitung kalori. Ia menganalisis kebutuhan energi berdasarkan posisi pemain, intensitas latihan, dan siklus pertandingan. Menurut laporan PFSA (Professional Football Scouts Association), nutritionist bekerja langsung dengan pemain untuk menyesuaikan pola makan harian, memilih jenis makanan yang sesuai, dan menentukan waktu makan yang optimal untuk memaksimalkan performa dan pemulihan.
Pemain bertahan, misalnya, membutuhkan asupan protein yang lebih tinggi untuk menjaga massa otot dan mempercepat pemulihan setelah duel fisik. Sementara gelandang serang memerlukan karbohidrat kompleks untuk menjaga konsentrasi dan daya tahan selama pertandingan. Nutritionist merancang menu yang tidak hanya sehat, tetapi juga taktis.
Pemulihan Cedera dan Pencegahan yang Dimulai dari Piring
Cedera adalah musuh utama atlet. Dan pemulihan bukan hanya soal terapi fisik, tetapi juga soal nutrisi. Studi dari Universitas Katolik Soegijapranata menunjukkan bahwa pengetahuan gizi yang baik berkontribusi langsung terhadap perilaku makan atlet, yang pada gilirannya memengaruhi proses pemulihan dan daya tahan tubuh.
Nutritionist memastikan bahwa pemain yang cedera mendapatkan asupan anti-inflamasi alami, seperti omega-3 dan antioksidan, serta cukup protein untuk mempercepat regenerasi jaringan. Ia juga memantau suplemen yang digunakan agar tidak melanggar regulasi anti-doping.
Edukasi dan Intervensi yang Berkelanjutan
Peran nutritionist tidak berhenti di ruang makan. Ia juga menjadi pendidik. Di banyak klub Eropa, nutritionist memberikan pelatihan rutin kepada pemain tentang pentingnya hidrasi, pengaruh gula terhadap performa, dan cara membaca label makanan. Ia bekerja sama dengan koki tim untuk memastikan bahwa menu harian tidak hanya lezat, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan fisiologis pemain.
Di Indonesia, studi observasional yang dilakukan di klub PerseKabPas menunjukkan bahwa meskipun gaya hidup atlet sudah mengikuti rekomendasi dari International Olympic Committee, asupan kalori dan protein masih jauh di bawah standar nasional. Di sinilah nutritionist menjadi jembatan antara teori dan praktik.
Tim Medis yang Multidisipliner
Nutritionist tidak bekerja sendiri. Ia adalah bagian dari tim medis yang terdiri dari dokter, fisioterapis, dan ilmuwan olahraga. Bersama-sama, mereka menyusun protokol pemulihan, strategi latihan, dan intervensi nutrisi yang saling mendukung. Dalam klub-klub besar seperti Manchester City atau Bayern Munich, nutritionist bahkan terlibat dalam analisis data performa untuk menyesuaikan kebutuhan gizi secara real-time.
Menurut PFSA, nutritionist juga bertanggung jawab untuk mengelola aspek kinerja pemain di seluruh akademi dan tim utama, termasuk konsultasi individu dan kelompok, serta pelatihan internal tentang praktik anti-doping dan penggunaan suplemen yang aman.
Nutrisi Adalah Taktik yang Tak Tertulis
Di lapangan, taktik terlihat dari formasi dan pergerakan bola. Namun, di balik layar, ada taktik lain yang tak kalah penting: nutrisi. Seorang nutritionist bukan hanya penjaga dapur, tetapi penjaga performa. Ia memastikan bahwa setiap pemain memiliki bahan bakar yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk menjalankan peran mereka dengan optimal.
Bagi ApleFriends yang tertarik pada dunia olahraga, memahami peran nutritionist adalah cara untuk melihat bahwa performa bukan hanya soal latihan keras, tetapi juga soal makan cerdas. Karena dalam sepakbola, seperti dalam hidup, apa yang masuk ke tubuh menentukan apa yang bisa dicapai.
Baca Juga: Chatbot AI vs Ahli Gizi: Apakah AI Bisa Gantikan Peran Dietitian?
Referensi
- Gaya Hidup, Status Gizi dan Stamina Atlet Sepakbola (2007), Jurnal Gizi FK UGM
- Peran Ahli Gizi Kinerja di Klub Sepakbola – PFSA
- Pentingnya Pengetahuan Gizi untuk Asupan Optimal Atlet Sepakbola (2021), Nutrition Research and Development Journal