Benarkah Soda Diet Meningkatkan Risiko Stroke dan Demensia?

Konsumsi minuman ringan berpemanis buatan, yang dikenal sebagai soda diet, telah melonjak secara global. Minuman ini dipasarkan sebagai alternatif ‘bebas rasa bersalah’ bagi mereka yang ingin mengurangi gula. Namun, salah satu studi observasional paling berpengaruh, Framingham Heart Study, telah menimbulkan kekhawatiran serius. Studi ini mengaitkan konsumsi rutin soda diet dengan peningkatan risiko stroke dan demensia. Di tengah tren hidup sehat, banyak masyarakat yang sering beralih ke soda diet tanpa menyadari potensi risiko jangka panjangnya.

Soda diet dijual sebagai solusi mudah untuk manajemen berat badan. Akan tetapi, ilmu pengetahuan mulai menunjukkan bahwa tidak adanya kalori tidak berarti tidak adanya konsekuensi biologis. Otak dan sistem kardiovaskular tampaknya bereaksi terhadap pemanis buatan dengan cara yang rumit.

Senjata Rahasia dan Reaksi Otak

Pemanis buatan yang paling umum digunakan dalam soda diet, seperti Aspartam dan Sukralosa, memberikan rasa manis tanpa memengaruhi kadar gula darah secara langsung. Namun, dampak bahan kimia ini pada tubuh, terutama pada otak dan metabolisme, jauh dari netral.

1. Respon Metabolik yang Bingung

Ketika pemanis buatan masuk ke lidah, mereka mengaktifkan reseptor rasa manis. Hal ini mengirimkan sinyal rasa manis yang intens ke otak. Otak mengharapkan masuknya energi (kalori) yang akan segera tiba. Ketika kalori itu tidak datang, sistem metabolik menjadi bingung. Ahli Endokrinologi berpendapat bahwa kebingungan ini dapat menyebabkan resistensi insulin dari waktu ke waktu. Resistensi insulin adalah faktor risiko utama stroke dan penyakit Alzheimer.

2. Perubahan Mikrobioma Usus

Penelitian terbaru menyoroti bahwa pemanis buatan dapat mengubah komposisi mikrobioma usus atau bakteri usus. Perubahan ini dapat menyebabkan peradangan sistemik. Peradangan kronis yang dipicu di usus memiliki jalur komunikasi langsung dengan otak. Peradangan ini dapat berkontribusi pada kerusakan pembuluh darah dan fungsi kognitif yang terganggu.

Stroke dan Penurunan Kognitif

Studi Framingham Heart Study, yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke, menemukan korelasi yang signifikan. Individu yang minum setidaknya satu soda diet per hari memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih tinggi terkena stroke iskemik dan demensia, terutama penyakit Alzheimer.

1. Dampak pada Pembuluh Darah

Para peneliti menduga bahwa peningkatan risiko stroke ini berkaitan dengan efek tidak langsung pemanis buatan pada sistem kardiovaskular. Peningkatan risiko diabetes Tipe 2 dan sindrom metabolik yang sering kali didorong oleh konsumsi soda diet dapat secara langsung meningkatkan risiko stroke. Kerusakan pembuluh darah yang disebabkan oleh kondisi metabolik yang buruk adalah penyebab utama.

2. Kekuatan Korelasi vs. Kausalitas

Penting untuk dicatat bahwa studi ini bersifat observasional. Studi ini menunjukkan korelasi, bukan kausalitas. Artinya, tidak dapat disimpulkan bahwa soda diet menyebabkan stroke. Bisa jadi, individu yang sudah berisiko tinggi terhadap kondisi metabolik (misalnya, karena obesitas) beralih ke soda diet. Mereka beralih dengan harapan itu akan membantu. Meskipun demikian, korelasi yang kuat ini menimbulkan alarm bagi Ahli Neurologi dan memicu perlunya penelitian intervensi yang lebih dalam.

Menghindari Jebakan Minuman Manis

Soda diet, meskipun nol kalori, sering kali gagal memberikan kepuasan hidrasi yang sesungguhnya. Selain itu, karbonasi dapat menyebabkan kembung. Sehingga dapat menyebabkan gangguan dan rasa tidak enak di dalam perut. Adapun alternatif yang jauh lebih sehat dan efektif untuk menjaga energi dan fokus meliputi:

  • Air Putih: Air mineral, tanpa pemanis, adalah hidrator terbaik.
  • Air Kelapa Murni: Kelapa segar menyediakan elektrolit alami tanpa pemanis tambahan.
  • Teh Hijau Dingin: Memberikan dosis kafein yang terkontrol dan antioksidan yang bermanfaat.

Prioritaskan Air Putih dan Makanan Utuh

Kekhawatiran yang timbul dari penelitian besar mengenai soda diet dan risiko stroke serta demensia adalah pengingat yang kuat: sesuatu yang bebas kalori tidak selalu berarti bebas risiko. Walaupun mekanisme kausalitas masih diselidiki, korelasi yang ditemukan dalam studi klinis utama menuntut kewaspadaan.

Bagi ApleFriends yang mengonsumsi soda diet sebagai upaya manajemen berat badan, pertimbangkan untuk beralih ke air putih atau minuman alami. Pilihlah nutrisi yang jujur dan bersahabat dengan otak. Kesehatan jangka panjang layak diprioritaskan di atas kenikmatan manis instan.

Baca Juga: Bahaya Tersembunyi Diet Soda dan Zero Sugar Drinks

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok