Dunia gizi dan kesehatan diwarnai dengan rilisnya The Dietary Guildeline for America 2025-2030 yang diterbitkan oleh United States Department of Agriculture (USDA) sebagai pedoman diet terbaru bagi masyarakat. Terutama bagi warga Amerika, yang menekankan kembali pada konsumsi real food atau bahan makanan utuh yang kaya nutrisi dan alami. Pedoman terbaru ini cukup menyita perhatian publik dan pakar gizi dengan adanya perubahan piramida makanan yang kini tampak “terbalik” dari piramida sebelumnya yang telah dikenal sejak tahun 1992.
Masalah Kesehatan di Amerika Saat Ini
Prevalensi penyakit metabolik yang dipengaruhi oleh kebiasaan makan ini telah meningkat sejak 45 tahun terakhir, termasuk pada anak-anak. Persentase penduduk Amerika Serikat yang memiliki status gizi obesitas kian bertambah. Termasuk pada anak usia 2-19 tahun yang hingga saat ini prevalensinya mencapai 36%, sementara pada orang dewasa sekitar 72%. Sekitar 50% dari penduduk Amerika saat ini menderita pradiabetes ataupun diabetes serta dilaporkan 75% penduduk dewasanya menderita paling tidak satu penyakit kronis. Kondisi ini berimbas pada meningkatnya beban ekonomi untuk biaya kesehatan dan menurunnya kualitas hidup sejak dini.
USDA menilai kondisi tersebut merupakan efek dari adanya kesalahpahaman terhadap pedoman yang telah ada sebelumnya. Yang mana prioritas bahan makanan yang dianjurkan ialah makanan pokok termasuk roti, sereal, pasta yang mana produk yang banyak beredar dipasaran tergolong highly processed food dan sekitar 2/3 total asupan energi dari penduduk AS berasal dari makanan highly processed food. Fakta ini menjadi pemicu dikeluarkannya The Dietary Guildeline for America 2025-2030 dengan gambaran piramida makanan “terbalik”.
The New Food Pyramid
1. Protein, Susu, dan Lemak Sehat
Protein berkualitas tinggi harus menjadi prioritas dalam setiap kali makan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Baik dari sumber hewani (telur, unggas, seafood, daging merah) maupun nabati (kacang-kacangan, biji-bijian, kedelai). Hindari memasak dengan metode deep-fried dan dapat diganti dengan dipanggang, dioven, ditumis, atau digrill. Pemilihan produk susu dan olahannya juga perlu dihindari yang diberi penambahan gula.
Secara jumlah, dalam panduan ini juga disarankan untuk mengonsumsi protein sebanyak 1,2-1,6 gram per kilogram berat badan dalam seharinya. Meningkat dibanding sebelumnya yang menyarankan 0,8-1 gram per kilogram berat badan per hari.
2. Sayuran dan Buah-Buahan
Sayur dan buah memegang peran penting dalam pola makan sehat. Dianjurkan untuk mengonsumsi beragam jenis sayur dan buah yang utuh, berwarna-warni, dan kaya zat gizi dalam bentuk alaminya. Dengan memilih sayuran dan buah-buahan segar serta diolah seminimal mungkin. Konsumsi buah/ sayur dalam bentuk jus juga sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas.
Disarankan untuk mengonsumsi sayuran 3 porsi dan buah-buahan 2 porsi sehari dengan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
3. Pemilihan Lemak Sehat
Untuk memenuhi kebutuhan lemak sehari-hari, perlu memperhatikan sumber bahan makanan yang dipilih. Dianjurkan untuk memilih lemak sehat dari makanan utuh, seperti daging, unggas, telur, ikan dan seafood sumber omega-3, kacang-kacangan, biji-bijian, susu, zaitun, dan alpukat. Minyak untuk memasak juga disarankan yang mengandung asam lemak essensial. Seperti minyak zaitun, jagung, kedelai, wijen, dan kanola, ataupun sebagai opsi lain sesekali dapat menggunakan butter atau beef tallow.
Konsumsi lemak jenuh dalam sehari yang berasal dari produk hewani (daging merah berlemak, kulit ayam, susu full cream, keju, butter, beef tallow) maupun nabati (minyak kelapa, kelapa sawit, santan) juga perlu dibatasi <10% dari total kebutuhan energi dalam sehari.
4. Biji-Bijian Utuh sebagai Sumber Karbohidrat
Dalam piramida makanan sebelumnya, karbohidrat memiliki porsi yang paling besar dibanding sumber makanan lain (6-11 porsi per hari) dan berbagai highly processed food seperti roti, sereal, dan pasta masih tergambar jelas disana.
Sementara itu, panduan terbaru lebih menekankan pada biji-bijan utuh tinggi serat (beras, gandum, oat, dll) dan mengurangi konsumsi karbohidrat tinggi olahan, seperti tepung, roti putih, makanan siap saji, krakers, dan kerupuk. Porsi yang dianjurkan juga lebih sedikit dibandingkan sebelumnya, yaitu 2-4 porsi per hari disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
5. Batasi Gula Tambahan dan Makanan Tinggi Olahan
Panduan ini menekankan pada konsumsi real food serta menghindari makanan tinggi olahan dan siap saji dengan gula tambahan dan garam/ natrium dalam jumlah tinggi, termasuk pengawet, perasa, pewarna buatan, dan pemanis buatan nonkalori (aspartam, sukralosa, sakarin, dll). Pilihlah makanan/ minuman dengan kandungan gula tambahan atau pemanis nonkalori yang tidak lebih dari 10 gram per satu porsi. Pembatasan gula ini sangat penting, terutama bagi anak-anak, untuk menghindari peningkatan risiko penyakit diabetes melitus. Akan tetapi, gula masih dapat diperoleh dari bahan makanan alami, seperti buah maupun susu murni.
Kontradiktif The New Food Pyramid
Berbagai pakar turut menyoroti panduan diet terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah AS awal tahun ini, terutama pada beberapa hal seperti:
1. Pembatasan Lemak Jenuh
Jika dilihat dari visualisasi piramida makanan terbaru, sumber protein yang ditonjolkan lebih condong ke bahan makanan yang tinggi lemak jenuh yang didominasi dari pretein hewani, termasuk butter dan lemak daging yang disebut dapat dijadikan sebagai pengganti sumber lemak. Hal ini kurang sesuai dengan rekomendasi pembatasan lemak jenuh per harinya yaitu <10% dari total kebutuhan energi karena jika kebutuhan protein didominasi dengan bahan makanan tersebut, asupan lemak jenuh akan melonjak tinggi melebihi rekomendasi yang ada.
Konsumsi lemak jenuh dalam jumlah berlebih dapat berisiko terhadap peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan risiko penyakit kardiovaskular. Sementara itu, penggunaan sumber lemak sehat yang mengandung asam lemak essensial lebih direkomendasikan karena dapat menurunkan kadar kolesterol jahat/ LDL dan risiko penyakit kardiovaskular.
2. Rekomendasi Kebutuhan Protein
Rekomendasi kebutuhan protein untuk dewasa saat ini meningkat hampir 50-100% dari rekomendasi yang telah ada sebelumnya. Hal ini juga tidak serta merta dapat diterapkan untuk seluruh individu karena kondisi tubuh dan tingkat aktivitas fisik yang berbeda. Berlebihnya asupan protein dapat disimpan dalam bentuk lemak yang memicu peningkatan berat badan dan risiko diabetes, terlebih jika didominasi oleh sumber protein tinggi lemak jenuh.
Pemilihan jenis protein juga perlu diperhatikan. Meskipun dalam piramida terlihat jelas bahwa daging merah menjadi salah satu yang di-highlight di sumber protein, namun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa daging merah mengandung senyawa karsinogenik pemicu kanker dan zat proinflamasi lainnya yang dapat menjadi boomerang bagi tubuh kita jika dikonsumsi berlebih.
Ketidaksesuaian visualisasi piramida makanan dengan peraturan yang ada dapat membuat masyarakat salah paham jika tidak memahami secara utuh panduan diet ini. Jumlah porsi yang direkomendasikan diatas ditujukan untuk individu dewasa dengan kebutuhan energi 2000 kkal per hari, namun hal tersebut juga tidak dapat digeneralisasi karena setiap individu pasti memiliki kondisi tubuh yang berbeda, yang pastinya akan sangat mempengaruhi kebutuhan makanan sehari-harinya, termasuk jenis dan jumlah porsi yang perlu dikonsumsi. Oleh karena itu, penting untuk AppleFriends melakukan konsultasi gizi kepada Ahli Gizi agar apa yang kamu makan sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhanmu saat ini.
Referensi
- Eat Real Food | realfood.gov
- The Scientific Foundation For The Dietary Guidelines For Americans (2026). USDA
- Dietary Guidelines For Americans 2025-2030 (2026). USDA
- Systematic Analysis of the Differential Effects of Red Meat on Colorectal Cancer Risks: A Meta-Analytic Approach (2025). Journal Gastrointest Cancer
- Red Meat Consumption and Cancer Risk: A Systematic Analysis of Global Data (2023). Foods
- Dietary Protein and Multiple Health Outcomes: An Umbrella Review of Systematic Reviews and Meta-Analyses of Observational Studies (2022). Clinical Nutrition Journal
- Dietary Guidelines for Americans 2025-2030: Progress on Added Sugar, Protein Hype, Saturated Fat Contradictions | The Nutrition Source Harvard T.H. Chan
Editor: Eka Putra Sedana

