Menilik Brokoli, Si Hijau “Superfood” yang Ternyata Kaya Vitamin C

Selama ini, buah–buahan sitrus seperti jeruk, lemon, atau kiwi selalu menjadi primadona yang langsung terlintas di pikiran kita saat berbicara tentang vitamin C. Ketika tubuh mulai terasa lelah atau sariawan menyerang, buah–buahan asam inilah yang biasanya diburu. Namun, tahukah Anda bahwa ada sayuran hijau yang biasa kita temukan di mangkuk sup sehari–hari yang diam-diam menyimpan kandungan vitamin C tidak kalah tinggi?

Sayuran tersebut adalah brokoli. Tanaman dengan nama ilmiah Brassica oleracea var. italica ini sering kali dihindari oleh anak-anak karena rasanya yang cenderung hambar atau sedikit pahit jika salah mengolahnya. Padahal, di balik teksturnya yang menyerupai pohon kecil, brokoli menyimpan segudang nutrisi penting, terutama karena brokoli mengandung vitamin C dalam kadar yang cukup tinggi.

Apa yang Membuat Brokoli Kaya Vitamin C?

Banyak orang belum menyadari bahwa kandungan vitamin C dalam satu mangkuk brokoli mentah seberat 90 gram dapat memenuhi sekitar 90% hingga 100% dari total kebutuhan harian tubuh kita. Jika dibandingkan secara setara per 100 gram, kandungan vitamin C pada brokoli segar berkisar 89,2 miligram. Angka ini bahkan melampaui kandungan vitamin C pada buah jeruk manis berukuran sama yang rata– rata mengantongi sekitar 53 miligram.

Lantas, mengapa komponen ini begitu melimpah di dalam brokoli? Secara biologis, brokoli merupakan bagian dari keluarga kubis–kubisan (Brassicaceae). Sayuran dalam kelompok ini memanfaatkan vitamin C atau asam askorbat bukan hanya sebagai nutrisi sederhana, melainkan sebagai sistem pertahanan alami tanaman terhadap stres lingkungan dan paparan sinar matahari selama masa pertumbuhan. Efeknya, ketika manusia mengonsumsi sayuran ini, kita turut memperoleh senyawa pelindung tersebut yang kemudian berperan sebagai antioksidan di dalam tubuh.

Kandungan antioksidan yang tinggi ini bekerja dengan cara melumpuhkan radikal bebas molekul tidak stabil akibat polusi dan sisa metabolisme yang berpotensi merusak sel–sel sehat. Dengan mengonsumsi brokoli secara rutin, kita secara tidak langsung sedang membangun sebuah pertahanan untuk menjaga elastisitas kulit, mempercepat penyembuhan luka, hingga mendukung produksi kolagen alami tubuh.

Kapan Sebaiknya Brokoli Di Konsumsi?

Mengingat tubuh manusia tidak dapat memproduksi atau menyimpan vitamin C sendiri karena sifatnya yang larut dalam air, kebutuhan dari luar sepenuhnya diperlukan setiap hari. Manfaat dari tingginya vitamin C dalam brokoli ini sangat esensial bagi semua kalangan, mulai dari anak–anak dalam masa pertumbuhan, orang dewasa dengan mobilitas tinggi di perkotaan yang rentan terpapar polusi, hingga kelompok lansia yang membutuhkan perlindungan ekstra untuk sistem imun mereka.

Momen terbaik untuk mengonsumsi si hijau ini sebenarnya tidak terbatas pada waktu tertentu. Brokoli sangat baik dijadikan menu sarapan pendamping telur, campuran salad saat makan siang, ataupun hidangan tumis ringan di malam hari. Mengingat fungsinya yang krusial dalam membantu penyerapan zat besi non–heme (zat besi dari tumbuh-tumbuhan), menyajikan brokoli bersama bahan makanan seperti tahu, tempe, atau bayam akan mengoptimalkan penyerapan nutrisi dalam tubuh secara berkali–kali lipat.

Cara Tepat Mengolah Brokoli Agar Gizinya Tidak Hilang 

Mengetahui fakta bahwa brokoli kaya akan gizi tentu barulah sebuah awal. Tantangan terbesarnya terletak pada dapur kita sendiri. Di mana dan bagaimana kita mengolah sayur ini sangat menentukan seberapa banyak kadar vitamin C yang tersisa saat masuk ke dalam mulut. Karena sifat vitamin C yang sangat sensitif terhadap suhu panas dan mudah larut dalam air, metode memasak yang salah bisa membuat gizi baik ini terbuang sia–sia ke dalam air rebusan.

Sering kali, kebiasaan kita adalah merebus brokoli dalam air mendidih dalam waktu yang lama hingga warnanya berubah menjadi hijau kekuningan dan teksturnya lembek. Teknik ini sebaiknya mulai dihindari jika Anda mengincar manfaat vitamin C-nya. Proses perebusan yang terlalu lama dapat melarutkan hingga 50% kadar asam askorbat ke dalam air yang tidak kita konsumsi.

Sebagai alternatif terbaik, cobalah beralih ke metode mengukus (steaming) atau memasak singkat dengan oven gelombang mikro (microwave). Mengukus brokoli selama 3 hingga 5 menit saja sudah cukup untuk membuatnya empuk namun tetap renyah, sekaligus mempertahankan warna hijau terangnya yang segar. Berdasarkan berbagai riset pangan, metode mengukus terbukti menjadi cara paling efektif untuk mengunci kandungan vitamin C dan senyawa pelindung kanker (glukosinolat) agar tetap utuh di dalam jaringan sayur.

Beralih ke pola hidup sehat tidak selalu harus ditebus dengan membeli suplemen mahal atau buah–buahan impor yang sulit dicari. Terkadang, rahasia kesehatan optimal justru berada dekat dengan kita di pasar tradisional maupun supermarket terdekat. Melalui pemahaman yang tepat mengenai tingginya kadar vitamin C pada brokoli serta cara pengolahan yang benar, kita dapat menjaga kebugaran tubuh secara lebih alami dan ekonomis. Jadi, jangan ragu lagi untuk memasukkan si hijau kaya manfaat ini ke dalam keranjang belanjaan dan piring makan Anda mulai hari ini!

Referensi :

  1. Broccoli Raw Profile | USDA Food Data Central
  2. Orange Raw All Commercial Varieties | NutritionDataHub
  3. The Nutritional and Health Benefits of Broccoli | Health Education Magazine
  4. Broccoli: A Multi-Faceted Vegetable for Health: An In-Depth Review of Its Nutritional Attributes, Antimicrobial Abilities, and Anti-inflammatory Properties (2023), MDPI Journal
  5. The Multifaceted Health Benefits of Broccoli—A Review of Glucosinolates, Phenolics and Antimicrobial Peptides (2025), MDPI Journal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok