Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa obesitas kini telah melampaui kekurangan gizi di banyak negara sebagai ancaman kesehatan masyarakat terbesar. Kondisi ini meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Obesitas bukan lagi sekadar masalah estetika atau pilihan gaya hidup semata. Obesitas telah diakui sebagai penyakit kronis multifaktorial yang membutuhkan intervensi medis yang serius dan berkelanjutan.
Bagi masyarakat yang berjuang melawan kenaikan berat badan atau memiliki komplikasi terkait berat badan berlebih, perkembangan di bidang terapi Glucagon-like Peptide-1 (GLP-1) merupakan kabar yang sangat menjanjikan. Obat-obatan ini, yang awalnya dikembangkan untuk diabetes, kini menunjukkan efikasi luar biasa dalam membantu manajemen berat badan.
Kini, WHO secara resmi turun tangan. Organisasi tersebut merilis pedoman untuk mengintegrasikan terapi GLP-1 dalam penanganan obesitas.
Membantu Mengatur Selera Makan
Obat golongan GLP-1 Receptor Agonists (seperti Semaglutide dan Liraglutide) meniru kerja hormon alami yang diproduksi di usus. Hormon ini berperan penting dalam regulasi nafsu makan dan rasa kenyang.
Mekanisme kerjanya sangat cerdas dan multifaset:
- Peningkatan Rasa Kenyang: GLP-1 bekerja pada reseptor di otak, khususnya di hipotalamus. Bagian ini bertanggung jawab mengatur nafsu makan. Dengan meningkatkan sinyal rasa kenyang, obat ini secara efektif mengurangi rasa lapar dan membuat seseorang merasa puas dengan porsi makanan yang lebih kecil.
- Perlambatan Pengosongan Lambung: Obat ini memperlambat proses makanan meninggalkan lambung. Proses ini membantu memperpanjang rasa kenyang.
- Pengendalian Gula Darah: Efek asli obat ini juga membantu menstabilkan kadar gula darah, mengurangi lonjakan insulin yang sering memicu rasa lapar.
Obat ini diibaratkan sebagai ‘pemprogram ulang’ sistem pengendalian nafsu makan. Obat ini membantu pasien mengatasi dorongan biologis untuk makan berlebihan. Dorongan ini sering kali menjadi ciri khas obesitas.
Mengapa Pedoman WHO Penting?
Langkah WHO mengeluarkan pedoman penggunaan GLP-1 untuk obesitas adalah pengakuan resmi terhadap efikasi obat ini sebagai alat yang vital. Ada dua dampak penting dari pedoman ini:
1. Pengakuan Obesitas sebagai Penyakit
Pedoman ini memperkuat status obesitas sebagai penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Obesitas bukan hanya kegagalan moral atau kurangnya kemauan keras. Pengakuan ini membantu melawan stigma yang melekat pada kondisi tersebut.
2. Mendorong Akses dan Ketersediaan
Terapi GLP-1 saat ini sangat mahal dan seringkali tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan di banyak negara. Dengan dukungan WHO, pemerintah dan badan pengawas kesehatan didorong untuk mempertimbangkan dua hal. Yang pertama adalah penyertaan terapi ini dalam daftar obat esensial. Yang kedua adalah negosiasi harga. Tujuannya adalah agar terapi dapat diakses oleh populasi yang benar-benar membutuhkannya.
Siapa yang Direkomendasikan?
Pedoman WHO tidak merekomendasikan penggunaan GLP-1 untuk setiap kasus kelebihan berat badan. Rekomendasi ini ditujukan untuk individu yang memenuhi kriteria klinis tertentu:
- Indeks Massa Tubuh (IMT) Tinggi: Umumnya direkomendasikan untuk individu dengan IMT di atas $30 \text{ kg/m}^2$. Atau individu dengan IMT di atas $27 \text{ kg/m}^2$ yang disertai setidaknya satu komplikasi terkait berat badan. Komplikasi ini meliputi hipertensi, dislipidemia, atau diabetes Tipe 2.
- Gagal dengan Intervensi Gaya Hidup: Terapi ini direkomendasikan setelah upaya modifikasi gaya hidup (diet dan olahraga) yang terstruktur dan konsisten tidak menghasilkan penurunan berat badan yang memadai.
Penggunaan terapi ini harus selalu berada di bawah pengawasan dokter spesialis. Dosis harus disesuaikan. Pemantauan efek samping, terutama masalah pencernaan (mual dan muntah), harus dilakukan secara teratur.
Efikasi Jangka Panjang dan Risiko
Uji klinis menunjukkan efikasi yang mengesankan. Beberapa pasien mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 15% dari berat badan awal dalam waktu satu tahun. Namun, terapi GLP-1 bukanlah tanpa pertimbangan:
- Kebutuhan Berkelanjutan: Terapi ini biasanya harus dilakukan dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup. Penghentian obat sering kali menyebabkan kenaikan berat badan kembali.
- Efek Samping: Efek samping yang paling umum adalah mual, diare, atau muntah, terutama pada awal terapi. Meskipun jarang, ada risiko yang dicurigai terkait dengan pankreatitis atau tumor tiroid tertentu (pada studi hewan).
- Biaya: Tantangan biaya tetap menjadi penghalang utama bagi keberlanjutan terapi.
Endokrinolog Klinis menekankan pentingnya evaluasi risiko-manfaat. Obat ini harus digunakan sebagai bagian dari rencana perawatan komprehensif. Perawatan komprehensif ini mencakup konseling gizi dan dukungan psikologis.
Peran Gizi dan Gerak
Sama seperti terapi diabetes, pedoman WHO memperjelas bahwa GLP-1 hanyalah alat bantu. Obat ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perubahan fundamental dalam gaya hidup. Penurunan berat badan jangka panjang dan perbaikan kesehatan metabolik memerlukan komitmen terhadap gizi dan aktivitas fisik.
Obat ini mempermudah perjuangan melawan lapar. Obat ini memberikan ‘jendela peluang’ bagi pasien untuk membangun kebiasaan sehat yang baru. Pasien harus belajar mempertahankan pola makan yang seimbang dan meningkatkan aktivitas fisik.
Tanpa perubahan gaya hidup yang mendasar, penurunan berat badan yang dicapai dengan GLP-1 mungkin akan sulit dipertahankan. Obat ini berfungsi sebagai booster untuk inisiasi perubahan. Obat ini bukan solusi akhir.
Memanfaatkan Ilmu Pengetahuan untuk Kesehatan
Pedoman WHO yang mengesahkan penggunaan GLP-1 untuk terapi obesitas adalah berita penting. Pedoman ini menawarkan alat baru yang kuat dalam memerangi epidemi global. Obat ini dapat membantu mengontrol nafsu makan dan berat badan.
Bagi setiap individu yang bergulat dengan obesitas klinis, diskusikan opsi GLP-1 dengan penyedia layanan kesehatan. Pahami cara kerjanya. Pahami juga bahwa obat ini paling efektif ketika diintegrasikan ke dalam gaya hidup sehat. Ilmu pengetahuan telah memberikan senjata baru. Gunakan senjata ini dengan bijak. Prioritaskan kesehatan metabolik di atas segalanya.
Baca Juga: Olahraga Bersama Anak Bisa Turunkan Risiko Obesitas
Referensi
- WHO Issues Global Guideline on the Use of GLP-1 Medicines in Treating Obesity, World Health Organization
- World Health Organization Guideline on the Use and Indications of Glucagon-Like Peptide-1 Therapies for the Treatment of Obesity in Adults, JAMA Network
- The Expanding Role of GLP-1 Receptor Agonists: A Narrative Review of Current Evidence and Future Directions (2025), eClinicalMedicine

