Penelitian ekstensif di bidang endokrinologi reproduksi menunjukkan bahwa kualitas oosit (sel telur) dan penerimaan endometrium (dinding rahim) merupakan faktor penentu utama keberhasilan In Vitro Fertilization (IVF). Kualitas ini tidak hanya dipengaruhi oleh usia dan protokol stimulasi, tetapi juga oleh status nutrisi. Kekurangan mikronutrien tertentu dapat secara langsung mengganggu proses pematangan sel telur. Bagi setiap wanita yang memulai perjalanan IVF, sering kali menantang secara emosional dan fisik, persiapan tubuh yang optimal menjadi prioritas utama.
Program IVF adalah proses intensif. Proses ini menuntut tubuh berada dalam kondisi prima. Nutrisi, khususnya vitamin dan antioksidan, berfungsi sebagai “bahan bakar super” yang dapat melindungi dan meningkatkan kualitas sel-sel reproduksi. Ini adalah investasi sederhana. Investasi ini berpotensi meningkatkan peluang keberhasilan yang besar.
1. Asam Folat (Vitamin B9)
Asam Folat, atau bentuk aktifnya yang dikenal sebagai Folat, sudah lama diakui sebagai suplemen penting sebelum dan selama kehamilan. Namun, perannya dalam IVF melampaui pencegahan cacat tabung saraf.
Asam Folat sangat penting untuk sintesis DNA dan pembelahan sel yang sehat. Proses ini krusial selama pembentukan dan pematangan sel telur. Kajian Obstetri dan Ginekologi menunjukkan bahwa status folat yang adekuat dapat dikaitkan dengan kualitas oosit yang lebih baik dan tingkat implantasi yang sedikit lebih tinggi. Kekurangan folat, terutama pada wanita dengan mutasi gen MTHFR tertentu, dapat mengganggu metabolisme, sehingga diperlukan bentuk suplemen aktif (methylfolate). Asam folat harus mulai dikonsumsi setidaknya tiga bulan sebelum dimulainya protokol IVF.
2. Koenzim Q10 (CoQ10)
Koenzim Q10 adalah antioksidan kuat. Antioksidan ini memainkan peran vital dalam rantai produksi energi mitokondria. Mitokondria adalah “pembangkit listrik” sel.
Sel telur adalah sel terbesar dalam tubuh manusia. Sel telur membutuhkan energi yang sangat besar untuk menjalani pematangan, pembuahan, dan pembelahan awal. Seiring bertambahnya usia, jumlah CoQ10 dalam oosit cenderung menurun. Hal ini berpotensi memengaruhi kualitas sel telur.
Penelitian Reproduksi Klinis menunjukkan bahwa suplementasi CoQ10, khususnya pada wanita berusia 35 tahun ke atas, dapat meningkatkan respons ovarium terhadap stimulasi dan berpotensi meningkatkan kualitas embrio, meskipun dosis dan durasi pemberian harus dikonsultasikan dengan dokter spesialis.
3. Vitamin D
Vitamin D sering disebut sebagai vitamin, namun ia bertindak seperti hormon steroid dalam tubuh. Reseptor Vitamin D ditemukan di hampir setiap jaringan, termasuk ovarium dan endometrium.
Status Vitamin D yang optimal dikaitkan dengan regulasi hormonal yang lebih baik. Vitamin D juga dikaitkan dengan lingkungan implantasi yang lebih kondusif. Kadar Vitamin D yang rendah telah dikaitkan dengan tingkat keberhasilan IVF yang lebih rendah.
Endokrinolog Reproduksi sangat merekomendasikan pemeriksaan kadar Vitamin D sebelum memulai IVF. Jika hasilnya rendah, diperlukan suplementasi dosis tinggi yang dipantau. Vitamin D membantu menciptakan ‘kasur’ yang nyaman di rahim untuk embrio.
4. Vitamin C dan E
Vitamin C dan E bekerja secara sinergis sebagai antioksidan yang kuat. Tujuan antioksidan adalah melawan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah proses yang merusak sel.
Stres oksidatif dapat merusak sel telur dan sperma. Jenis stres ini juga dapat mengganggu perkembangan embrio awal. Vitamin E, yang larut dalam lemak, sering direkomendasikan untuk meningkatkan ketebalan lapisan rahim (endometrium). Sementara itu, Vitamin C, yang larut dalam air, mendukung kesehatan umum dan sistem kekebalan tubuh.
Mengonsumsi antioksidan ini membantu menciptakan lingkungan seluler yang lebih sehat dan terlindungi. Lingkungan ini penting untuk proses reproduksi yang rapuh.
5. L-Carnitine atau Myo-Inositol
Meskipun bukan vitamin dalam definisi klasik, L-Carnitine atau Myo-Inositol sering dimasukkan dalam protokol suplemen pra-IVF. L-Carnitine, seperti CoQ10, penting untuk energi seluler. Ini sering digunakan untuk meningkatkan kesehatan sperma, tetapi juga berperan dalam energi oosit.
Myo-Inositol, bagian dari keluarga Vitamin B, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Hasil ini terutama terlihat pada wanita dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang menjalani IVF. Myo-Inositol membantu meningkatkan kualitas oosit dan mengurangi risiko Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS).
Suplemen tambahan ini harus disesuaikan. Penyesuaian ini harus berdasarkan diagnosis spesifik dan kondisi pasien.
Nutrisi Sebagai Mitra Medis
Program IVF adalah kemitraan erat antara sains medis dan kemampuan biologis tubuh. Mengonsumsi lima vitamin dan nutrisi penting ini bukanlah jaminan. Namun, hal ini adalah langkah proaktif yang didukung oleh bukti. Langkah ini akan memastikan bahwa fondasi sel telur dan rahim berada dalam kondisi nutrisi yang optimal.
Baca Juga: Panduan Global Terbaru Mengelola Diabetes Selama Kehamilan
Referensi
- Influence of Vitamin D Supplementation on Reproductive Outcomes of Infertile Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis (2023), Reproductive Biology and Endocrinology
- Does Coenzyme Q10 Supplementation Improve Human Oocyte Quality? (2021), International Journal of Molecular Sciences
- The Clinical Use of Myo-Inositol in IVF-ET: A Position Statement from the Experts Group on Inositol in Basic and Clinical Research and on PCOS (EGOI-PCOS), the Polish Society of Andrology, and the International Scientific Association for the Support and Development of Medical Technologies (2025), Journal of Clinical Medicine

