Dalam kehidupan sehari-hari, ditemukan banyak produk makanan dan minuman dengan klaim sugar free atau “bebas gula”. Mulai dari permen, biskuit, minuman yang diklaim nol gula dan lebih ramah bagi kesehatan. Salah satu bahan yang sering digunakan untuk menghasilkan rasa manis adalah gula alkohol (poliol). Meskipun namanya mengandung kata “alkohol”, gula alkohol tidak mengandung etanol sehingga tidak menimbulkan efek memabukkan seperti minuman beralkohol.
Gula alkohol menjadi alternatif pilihan yang memiliki rasa manis seperti gula pasir, tetapi mengandung kalori yang lebih rendah dan memberi pengaruh lebih kecil terhadap peningkatan kadar gula darah. Namun, apakah alkohol benar-benar aman dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan berikut ini!
Gula Alkohol
Gula alkohol atau poliol adalah kelompok karbohidrat yang seringkali disebut sebagai pemanis rendah kalori dalam berbagai produk pangan. Secara kimia, gula alkohol memiliki struktur yang menyerupai kombinasi antara gula dan alkohol. Beberapa jenis gula alkohol secara alami ditemukan pada buah-buahan, sayur-sayuran, dan jamur. Akan tetapi, sebagian besar gula alkohol sering digunakan dalam produk rendah gula atau tanpa tambahan gula karena memberikan pengaruh yang lebih kecil terhadap kadar gula darah dibandingkan sukrosa.
Jenis-jenis Gula Alkohol
Beberapa jenis gula alkohol yang sering digunakan pada industri pangan antara lain eritritol, xylitol, sorbitol, maltitol, mannitol, isomalt, dan lactitol. Setiap senyawa memiliki karakteristik yang berbeda dari tingkat kemanisan, kandungan kalori, dan pengaruhnya terhadap indeks glikemik atau ukuran seberapa cepat makanan diubah menjadi gula darah dengan nilai normal < 55.
1. Eritritol
Eritritol memiliki tingkat kemanisan sekitar 60-80% sehingga mampu memberikan rasa manis yang lebih rendah dibanding dengan gula pasir. Dari segi kandungan kalori, eritritol mengandung sekitar 0,2 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 0 sehingga hampir tidak menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Senyawa ini banyak digunakan pada minuman rendah kalori.
2. Xylitol
Xylitol memiliki tingkat kemanisan yang menyerupai gula pasir sebesar 100% sehingga mampu memberikan rasa manis yang hampir sama dengan gula pasir. Dari segi kandungan kalori, xylitol mengandung sekitar 2,4 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 13 sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih rendah dibanding gula pasir. Senyawa ini banyak digunakan pada permen karet bebas gula, pasta gigi, dan produk rendah gula lainnya.
3. Sorbitol
Sorbitol memiliki tingkat kemanisan sekitar 50-70% dibanding gula pasir.Dari segi kandungan kalori, sorbitol mengandung sekitar 2,7 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 9 sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih rendah. Senyawa ini banyak digunakan untuk mempertahankan kelembapan pada permen, sirup, dan produk obat-obatan.
4. Maltitol
Maltitol memiliki tingkat kemanisan sekitar 90% dibanding gula pasir. Dari segi kandungan kalori, maltitol mengandung sekitar 2,1 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 35 yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih tinggi dibanding senyawa lainnya. Senyawa ini banyak digunakan pada cokelat, biskuit, dan makanan bebas gula.
6. Mannitol
Mannitol memiliki tingkat kemanisan sekitar 50-70% dibanding gula pasir. Dari segi kandungan kalori, mannitol mengandung sekitar 1,6 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 0 sehingga hampir tidak menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Senyawa ini banyak digunakan sebagai pemanis dan bulking agent pada industri pangan.
7. Isomalt
Isomalt memiliki tingkat kemanisan sekitar 45-65% dibanding gula pasir. Dari segi kandungan kalori, isomalt mengandung sekitar 2 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 9 sehingga hanya memberikan sedikit peningkatan kadar gula darah. Senyawa ini banyak digunakan dalam pembuatan permen, dekorasi kue, dan lainnya.
8. Lactitol
Lactitol memiliki tingkat kemanisan sekitar 30-40% dibanding gula pasir. Dari segi kandungan kalori, lactitol mengandung sekitar 1,9 kkal per gram dan memiliki indeks glikemik 6 sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih rendah. Senyawa ini banyak digunakan sebagai pemanis rendah kalori.
Benarkah Rendah Kalori?
Pada gula pasir (sukrosa) mengandung kalori sekitar 4 kkal per gram, sedangkan gula alkohol hanya mengandung sekitar 1,6-2,7 kkal per gram. Dalam tubuh, senyawa gula alkohol hanya diserap lebih lambat di sebagian usus halus dan sisanya akan difermentasi oleh bakteri di usus besar sehingga menghasilkan energi yang lebih rendah. Selain itu, sebagian besar gula alkohol memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah relatif lebih rendah.
Apakah Gula Alkohol Aman Dikonsumsi?
Secara umum, gula alkohol aman dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang. Berbagai lembaga internasional, seperti Food and Drug Administration (FDA), European Food Safety Authority (EFSA), dan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) telah mengevaluasi keamanan berbagai jenis gula alkohol dan menyatakan bahwa penggunaannya aman sebagai bahan tambahan pangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk individu yang ingin mengurangi konsumsi gula, mengontrol berat badan, dan sebagai penderita diabetes, gula alkohol dapat menjadi salah satu alternatif pemanis karena rendah kalori.
Meskipun demikian, produk dengan gula alkohol bukan berarti dapat dikonsumsi tanpa batas karena beberapa produk bebas gula tetap mengandung karbohidrat, lemak, maupun kalori dari bahan lain sehingga tetap perlu memperhatikan informasi nilai gizi dan ukuran saji pada label pangan.
Efek Samping Gula Alkohol
Gula alkohol dapat menimbulkan efek samping apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Hal ini disebabkan karena sebagian gula alkohol tidak diserap secara sempurna di usus halus sehingga akan difermentasi oleh bakteri di usus besar. Proses fermentasi tersebut dapat menghasilkan gas dan menarik air ke dalam saluran pencernaan sehingga memicu berbagai keluhan, seperti perut kembung, peningkatan produksi gas, nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, hingga diare. Bagi individu yang memiliki gangguan pencernaan seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS) sangat disarankan untuk lebih berhati-hati karena menyebabkan gejala pada sebagian orang.
Referensi
- Safety of sugar alcohols on human health: a review (2026), International Journal of Food Science and Technology
- Sugar Alcohol: A Comparison of Xylitol and Sorbitol in Food Aplication (2024), Jurnal Global Ilmiah
- Sugar alcohols – their role in the modern world of sweeteners: a review (2015), European Food Research and Technology
- Sweeteners as food additives in the XXI century: A review of what is known, and what is to come (2017), Food and chemical toxicology : an international journal published for the British Industrial Biological Research Association
- What Are Sugar Alcohols, and Are They a Healthy Sugar Swap? | Healthline
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


