Rahasia Buah Delima dalam Pencegahan dan Pengobatan Kanker, Antara Klaim dan Bukti Ilmiah

Kanker masih menjadi masalah yang menyebabkan kematian utama di dunia dengan jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahunnya. Data WHO mencatat pada tahun 2024 terdapat 10 juta kematian dengan jenis kanker yang paling umum adalah kanker paru-paru sebanyak 2,6 juta kasus, kanker payudara 2,4 juta kasus, kanker usus besar dan rektum 2 juta kasus, serta kanker prostat 1,5 juta kasus.  Kanker ditandai dengan pertumbuhan dan pembelahan sel yang tidak terkendali dan dapat menyebar ke jaringan atau organ lain. Dalam pengendalian faktor risiko bisa membantu menurunkan risiko salah satunya dengan penerapan pola makan yang sehat termasuk sayur dan buah.

Buah Delima  menjadi perbincangan publik dan menarik perhatian dalam mencegah kanker. Buah ini diklaim kaya akan antioksidan sehingga dapat mencegah bahkan mengobati kanker. Lantas, sejauh mana penelitian mendukung peran buah delima dalam pencegahan kanker? Apakah klaim ini terbukti secara klinis dan bisa diterapkan pada manusia? Hal tersebut penting diketahui untuk memilih informasi yang tepat dan tidak mudah terpengaruh klaim kesehatan yang belum tentu benar dan terpercaya.

Keistimewaan Buah Delima

Secara struktur, pohon delima terdiri dari beberapa bagian berupa akar dan kulit buah, daging buah, biji, minyak, daun, serta bunga, Menariknya, hampir setiap bagian tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kulit buah delima mengandung senyawa fenolik meliputi flavonoid, tanin, proantosianidin, dan ellagitannin termasuk punicalagin sebagai antioksidan kuat. Bagian daging buah mengandung vitamin C, gula alami, dan pigmen antosianin yang memberikan warna merah khas pada delima. Untuk biji delima banyak mengandung minyak yang didominasi asam punisat serta asam amino seperti leusin dan fenilalanin. Daun delima mengandung mineral penting seperti kalsium, besi, kalium, dan natrium sedangkan bunga delima mengandung asam lemak, asam galat, dan asam ursolat.

Buah delima (Punica granatum) telah lama dikenal sebagai salah satu buah yang kaya antioksidan dan  mengandung senyawa bioaktif lainnya meliputi quercetin, luteolin, kaempferol, ellagitannin, dan anthocyanidin. Senyawa tersebut mampu memengaruhi berbagai jalur pensinyalan sel dalam pembentukan dan perkembangan kanker. Hal tersebut yang membedakan buah delima dari buah lain yang hanya dikenal sebagai sumber antioksidan. Selain itu ditemukan polifenol utama pada buah ini di antaranya asam hidroksibenzoat, asam hidroksisinamat, flavonoid, antosianin, tanin, dan lain sebagainya. 

Konsumsi buah delima dilaporkan dapat membantu menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol total, dan kolesterol LDL atau dikenal dengan kolesterol jahat. Tidak hanya itu, ditemukan juga senyawa punicalagin baik dalam bentuk α maupun β, yang memiliki sifat antiproliferatif, yaitu dapat menghambat pertumbuhan dan pembelahan sel kanker, terutama kanker paru-paru dan kanker prostat. 

Mengapa Buah Delima dikaitkan dengan Kanker?

Buah delima mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antiproliferasi. Senyawa utama yang banyak terkandung pada buah delima antara lain punicalagin, ellagic acid, ellagitannin, flavonoid, dan antosianin. Senyawa-senyawa tersebut mampu memengaruhi proses biologis dalam tubuh terutama dalam pembentukan dan perkembangan sel kanker. 

Proses terbentuknya kanker (karsinogenesis) bukan terjadi secara tiba-tiba melainkan melalui beberapa tahapan yang dipengaruhi oleh kerusakan DNA, stres oksidatif, peradangan sehingga timbul pertumbuhan sel yang tidak normal. Pada penelitian laboratorium, senyawa pada buah delima dapat mengurangi stres oksidatif dengan menangkal radikal bebas, menekan respons peradangan, menghambat pembelahan dari sel kanker, serta menghambat angiogenesis yakni pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor sehingga dapat menyebar ke jaringan lain.

Apa Kata Bukti Ilmiah?

Dalam penelitian Food Science & Nutrition (2025) menunjukkan bahwa senyawa bioaktif yang memiliki sifat antioksidan dan antiproliferatif yaitu mampu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas sekaligus menghambat pertumbuhan dan pembelahan sel kanker. Pada dasarnya, kanker berkembang saat sel mengalami perubahan genetik sehingga terus membelah tanpa terkendali dan tidak lagi merespon mekanisme pengendalian tubuh. Sel kanker akan terus bertumbuh dan terus menyebar ke organ dan jaringan lain melalui proses metastasis. 

Pada penelitian laboratorium dan hewan percobaan, ekstrak buah delima dilaporkan mampu menghambat pertumbuhan tumor, menginduksi apoptosis, serta menghentikan siklus pembelahan sel kanker. Efek tersebut terjadi karena senyawa dalam delima dapat memengaruhi beberapa jalur pensinyalan (cell signaling pathways) yang mengatur pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel kanker, seperti JAK/STAT, NF-κB, dan MAPK/ERK. Salah satu jalur yang paling banyak diteliti adalah STAT3 yang berperan dalam mengatur aktivitas berbagai sel dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam buah delima berpotensi menghambat aktivasi STAT3 yang berlebihan. Dengan menghambat jalur ini, pertumbuhan sel kanker diperkirakan dapat diperlambat dan kemampuan sel kanker untuk bertahan hidup menjadi berkurang.

Antara Klaim dan Fakta: Apakah Buah Delima Bisa Mencegah atau Mengobati Kanker? 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan sehat, termasuk konsumsi buah-buahan, berpotensi membantu menurunkan risiko kanker. Salah satunya pada buah delima yang mengandung berbagai senyawa dan diduga memiliki efek antikanker. Senyawa tersebut diketahui dapat memengaruhi jalur pensinyalan sel yang berperan dalam pertumbuhan kanker sehingga menghasilkan efek antiinflamasi, antioksidan, antiproliferatif (menghambat pembelahan sel kanker), dan antitumor.

Sejauh ini, hasil penelitian di laboratorium dan hewan percobaan menunjukkan bahwa daging buah maupun minyak biji delima mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis sel kanker. Senyawa lain juga dilaporkan dapat meningkatkan respons sistem imun, mengurangi peradangan, dan menghambat kemampuan sel kanker untuk menyebar ke jaringan dan organ lain. Tidak hanya itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa tersebut dapat bekerja secara bersama-sama baik dengan sesama senyawa dalam delima maupun dengan obat kemoterapi, sehingga berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan. 

Meskipun hasil penelitian di laboratorium dan hewan percobaan menunjukkan potensi untuk membantu mencegah perkembangan kanker, manfaat tersebut belum terbukti secara konsisten pada manusia. Beberapa penelitian menemukan bahwa ekstrak delima dapat memengaruhi penanda yang berkaitan dengan kanker, tetapi penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan. Secara keseluruhan, buah delima berpotensi membantu menurunkan risiko kanker tetapi tidak dapat dijadikan sebagai terapi kanker. 

Hingga saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa buah delima berpotensi menjadi bagian dari pola makan sehat yang dapat membantu menurunkan risiko kanker. Namun, belum terdapat bukti klinis yang cukup untuk menyatakan bahwa buah delima dapat mencegah atau mengobati kanker secara langsung. Oleh karena itu, buah delima sebaiknya dikonsumsi sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan bukan sebagai pengganti terapi medis yang telah direkomendasikan tenaga kesehatan. 

Referensi 

  1. Cancer | World Health Organization
  2. Carcinogenesis | National Institute of Health
  3. Pomegranate for Prevention and Treatment of Cancer: An Update (2017), Molecules
  4. The role of pomegranate (Punica granatum) in cancer prevention and treatment: Modulating signaling pathways from inflammation to metastasis (2025), Food Science & Nutrition
  5. Uncovering the Inhibitory Molecular Mechanism of Pomegranate Peel to Urinary Bladder Urothelial Carcinoma Using Proteomics Techniques (2022), Life

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok