Di tengah isu ketergantungan pangan dan fluktuasi harga beras, Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, Jawa Barat, menawarkan contoh yang unik sekaligus inspiratif. Selama lebih dari satu abad, masyarakatnya tidak menjadikan beras sebagai makanan pokok, melainkan singkong yang diolah menjadi rasi atau beras singkong. Pilihan ini bukan sekedar kebiasaan makan, tetapi bagian dari sistem hidup yang berpijak pada kearifan lokal, kemandirian pangan, dan pelestarian budaya. Dalam konteks ketahanan pangan, Cireundeu memperlihatkan bahwa keberlanjutan pangan tidak selalu identik dengan beras, melainkan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan makan dari sumber daya lokal yang dikelola sendiri.
Sejarah Singkong sebagai Pangan Utama
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang menyebutkan bahwa masyarakat Cireundeu telah meninggalkan konsumsi beras sejak sekitar tahun 1918 hingga 1924, dan menggantinya dengan singkong sebagai pangan utama. Tradisi ini diwariskan lintas generasi, sehingga singkong tidak hanya berfungsi sebagai bahan makanan, tetapi juga sebagai simbol identitas komunitas. Dalam praktiknya, singkong diolah menjadi rasi melalui proses panjang mulai dari dipanen, dikupas, dicuci, diparut, dijemur, digiling, lalu dimasak. Proses ini menunjukkan bahwa pengolahan pangan lokal dapat menjadi strategi adaptif yang sederhana, murah, dan berkelanjutan.
Ketahanan Pangan Berbasis Lokal
Ketahanan pangan tidak hanya berarti tersedianya bahan pangan, tetapi juga akses, pemanfaatan, dan stabilitas ketersediaan pangan sepanjang waktu. Kampung Adat Cireundeu menunjukkan bahwa sistem pangan yang bertumpu pada komoditas lokal dapat memperkuat kemandirian masyarakat, terutama ketika rantai pasok beras terganggu atau harga pangan naik. Studi yang dilakukan oleh Moelyono S (2024) menegaskan bahwa singkong berperan sebagai alat relasi sosial, budaya, dan ekonomi. Diversifikasi tanaman, terutama penanaman singkong di lahan kering dan pekarangan membantu menciptakan sistem pangan yang lebih tahan terhadap kekeringan dan ketidakpastian pasar.
Pelajaran untuk Indonesia
Kisah Cireundeu relevan bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya masih sangat bergantung pada beras sebagai pangan utama. Komunitas ini membuktikan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar slogan, melainkan dapat menjadi praktik nyata jika didukung oleh pengetahuan lokal, disiplin budaya, dan pemanfaatan lahan secara bijak. Bagi wilayah lain, pengalaman Cireundeu dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, sagu, dan sumber karbohidrat alternatif sesuai karakter daerah. Dengan upaya tersebut ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada produksi nasional, tetapi juga pada ketahanan pangan rumah tangga dan komunitas.
Kampung adat Cireundeu memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari nilai budaya, kesederhanaan, dan keberanian untuk tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan. Dalam arti ini, rasi bukan hanya makanan pokok, tetapi juga menjadi simbol kemandirian, keberlanjutan, dan identitas lokal yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Referensi
- Kearifan Lokal dan Diversifikasi Pangan ala Kampung Adat Cireundeu | Kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang
- Rasi – Warisan Budaya – referensi.data.kemendikdasmen.go
- Kearifan Lokal Dalam Mendukung Kemandirian Pangan: Studi Kasus: Singkong Bagi Masyarakat Kampung Adat Cireundeu Cimahi. (2024). repository.ub.ac.id
- Ketahanan Pangan: sanes teu aya beas (bukan tidak ada beras) – repositori.kemendikdasmen.go


