Tren debloating dengan cara menghentikan konsumsi gula ramai dibicarakan di sosial media sebagai metode cepat untuk membuat wajah tampak lebih tirus. Apakah klaim ini terbukti efektif membuat wajah lebih tirus dan memiliki dasar ilmiah yang mendukung atau sebaliknya? Untuk mengetahui informasi selengkapnya simak artikel berikut ini!
Memahami Istilah Debloating
Istilah debloating umumnya digunakan untuk menggambarkan berkurangnya rasa penuh, kembung, atau tampilan sembab pada tubuh. Dalam konteks wajah, perubahan yang dimaksud umumnya berupa berkurangnya bengkak di sekitar mata, pipi, atau rahang. Namun, wajah bengkak dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang berbeda sebagai berikut:
- Penumpukan cairan atau edema.
- Kurang tidur.
- Konsumsi natrium yang tinggi.
- Reaksi alergi.
- Perubahan hormon.
- Gangguan ginjal, hati, jantung, atau tiroid.
- Peningkatan lemak tubuh.
- Peradangan atau kondisi medis tertentu.
Berdasarkan penyebabnya yang beragam, mengurangi gula belum tentu dapat menyelesaikan bentuk pembengkakan wajah. Jika pembengkakan muncul tiba-tiba, hanya pada satu sisi, disertai sesak napas, bibir membengkak, ruam, atau gangguan penglihatan, kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis segera.
Apa Hubungan Gula dengan Wajah Sembab?
Gula yang dimaksud dalam tren stop gula mengacu pada gula bebas, yaitu gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula alami dalam madu, sirup, jus buah, atau konsentrat jus. Gula alami yang terdapat di dalam buah utuh dan susu tidak dikategorikan dengan cara yang sama karena berada dalam matriks pangan yang berbeda. Konsumsi gula tambahan berlebihan dapat meningkatkan asupan energi tanpa memberikan rasa kenyang yang sebanding. Minuman manis merupakan contoh yang mudah dikonsumsi dalam jumlah besar, tetapi kurang mengenyangkan dibandingkan makanan padat. Meta-analisis terhadap studi kohort prospektif dan uji klinis yang dilakukan oleh Nguyen M., et al (2022) menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis berkaitan dengan berat badan dan indeks massa tubuh pada anak maupun orang dewasa.
Jika berlangsung terus-menerus, kelebihan energi dapat disimpan sebagai lemak tubuh. Lemak ini tidak hanya tersimpan di perut, tetapi juga dapat memengaruhi wajah, termasuk area pipi, dagu, dan rahang. Sehingga wajah dapat terlihat lebih penuh atau chubby. Pada sebagian orang, pengurangan gula juga dapat diikuti dengan berkurangnya konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi natrium. Penurunan natrium dan perbaikan pola makan dapat memengaruhi keseimbangan cairan, sehingga wajah tampak lebih segar atau tidak terlalu sembab. Namun, klaim bahwa gula secara langsung membuat wajah menahan banyak cairan masih sering disampaikan berlebihan dan tidak dapat dijadikan penjelasan tunggal.
Apakah Berhenti Gula Langsung Membuat Wajah Tirus?
Jawabannya adalah belum tentu, mengapa demikian? Apabila seseorang mengurangi gula tambahan lalu wajah tampak lebih tirus dalam beberapa hari, perubahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan:
- Berkurangnya konsumsi minuman manis dan makanan tinggi energi.
- Berkurangnya asupan makanan ultra-proses yang tinggi natrium.
- Penurunan berat air sementara.
- Berkurangnya kembung pada saluran cerna.
- Perbaikan kualitas tidur dan pola makan secara umum.
Perubahan cairan dapat berlangsung lebih cepat daripada penurunan lemak. Sebaliknya, pengurangan lemak tubuh membutuhkan defisit energi yang konsisten dalam jangka waktu lebih panjang. Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa berhenti makan gula selama beberapa hari dapat secara khusus membakar lemak di wajah. Tubuh juga tidak dapat memilih lokasi lemak yang ingin dikurangi. Seseorang dapat mengalami penurunan berat badan secara umum, tetapi tidak dapat menentukan bahwa lemak hanya berkurang dari pipi atau dagu. Bentuk akhir wajah dipengaruhi oleh distribusi lemak, struktur tulang, massa otot, elastisitas kulit, dan faktor genetik.
Stop Gula ≠ Stop Karbohidrat
Kesalahan yang sering muncul dalam tren ini adalah anggapan bahwa semua karbohidrat harus dihentikan. Padahal, gula tambahan berbeda dari karbohidrat kompleks yang terdapat dalam nasi, kentang, jagung, singkong, oat, dan biji-bijian. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi penting. Pengurangan gula tambahan tidak sama dengan menghilangkan seluruh sumber karbohidrat. Diet yang terlalu ketat dapat menyebabkan asupan energi tidak mencukupi, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sembelit, atau mendorong perilaku makan berlebihan setelah periode pembatasan.
Dampaknya terhadap Kesehatan Kulit
Bukti ilmiah mengenai hubungan gula, pola makan tinggi indeks glikemik, dan jerawat menunjukkan adanya kemungkinan hubungan, tetapi hasil penelitian tidak berarti bahwa gula adalah satu-satunya penyebab jerawat. Tinjauan sistematis oleh Meixiong J., et al (2022) menemukan bahwa pola makan dengan indeks glikemik atau beban glikemik tinggi memiliki hubungan yang cukup konsisten dengan peningkatan risiko dan keparahan jerawat, meskipun efeknya tergolong modest (tidak signifikan) dan masih dipengaruhi faktor lain. Oleh karena itu, mengurangi gula dapat menjadi salah satu bagian dari pola hidup sehat, tetapi bukan sebagai pengganti terapi dermatologis.
Tips Melakukan Debloating Secara Aman
Jika tujuan utamanya adalah mengurangi sembab dan memperbaiki komposisi tubuh, pendekatan yang lebih aman adalah memperbaiki pola hidup secara menyeluruh sebagai berikut:
- Kurangi gula tambahan secara bertahap, terutama dari minuman.
- Pilih buah utuh dibandingkan jus atau minuman rasa buah.
- Konsumsi sumber karbohidrat yang lebih kaya serat.
- Sertakan protein dalam setiap waktu makan.
- Perbanyak sayuran dan cukupkan cairan dari air putih.
- Batasi makanan ultra-proses yang tinggi natrium.
- Tidur cukup dan teratur.
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Hindari diet ekstrem atau puasa berkepanjangan tanpa pengawasan.
- Evaluasi kondisi medis jika pembengkakan wajah menetap atau semakin berat.
Jadi, apakah tren debloating stop gula efektif untuk wajah tirus? Efeknya dapat membantu wajah tampak lebih segar atau tidak terlalu sembab pada sebagian orang, tetapi tidak menjamin wajah langsung tirus. Fokus yang lebih tepat bukan menghapus semua gula dan karbohidrat, melainkan membatasi gula bebas, mempertahankan pola makan beragam, serta menghindari klaim transformasi instan.
Referensi
- Sugar-sweetened beverage consumption and weight gain in children and adults: a systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies and randomized controlled trials. (2022). The American Journal of Clinical Nutrition.
- Diet and Acne: A systematic review. (2022). Elsevier JAAD International.
- Clinical and Histological Effect of a Low Glycemic LOad Diet in Treatment of Acne Vulgaris in Korean Patients: A Randomized, Controlled Trial. (2012) Acta Dermato-Venereologica.
- Effects of Diet on Acne and Rosacea. (2021). American Journal of Clinical Dermatology.


