Mitos atau Fakta Minuman Dingin Bikin Gemuk? 

Minuman dingin sering dianggap sebagai penyebab kenaikan berat badan. Ada yang percaya bahwa es dapat “membekukan lemak”, mengganggu pencernaan, atau membuat tubuh menyimpan lebih banyak kalori. Namun, klaim tersebut perlu diluruskan secara ilmiah karena yang berpengaruh terhadap berat badan adalah jenis minuman, kandungan gula, ukuran porsi, dan frekuensi konsumsinya bukan suhunya. Lalu bagaimana fakta dan bukti ilmiah yang membuktikan pernyataan tersebut? Simak pada artikel berikut ini.

Apakah Suhu Dingin Menyebabkan Lemak Menumpuk?

Lemak tubuh bertambah ketika asupan energi secara konsisten lebih besar daripada energi yang digunakan tubuh. Suhu minuman tidak secara langsung mengubah air atau minuman menjadi lemak. Bahkan, tubuh menggunakan sedikit energi untuk menyesuaikan suhu minuman yang masuk agar mendekati suhu tubuh. Namun, jumlah energi yang digunakan sangat kecil dan tidak cukup untuk memengaruhi berat badan secara bermakna. Sebuah penelitian mengenai efek termogenesis air menemukan bahwa air dingin hanya menimbulkan peningkatan pengeluaran energi yang kecil dan tidak cukup untuk digunakan sebagai strategi penurunan berat badan. Artinya, minum air es tidak membuat gemuk, tetapi juga tidak dapat dianggap sebagai metode pembakar lemak.

Air Es Tanpa Gula Tidak Menyebabkan Gemuk

Air putih dingin pada dasarnya tidak mengandung kalori. Oleh karena itu, air putih dengan es tidak menyebabkan penambahan berat badan secara langsung. Air dingin justru dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan minuman manis, terutama jika membantu seseorang mengurangi konsumsi teh manis, soda, kopi susu tinggi gula, atau minuman boba. Namun, perlu dibedakan antara:

  • Air putih dengan es batu atau air dingin.
  • Teh tawar dingin.
  • Infused water tanpa gula.
  • Kopi susu dingin.
  • Minuman bersoda.
  • Minuman kemasan dengan gula tambahan.

Semua minuman tersebut dapat disajikan dingin, tetapi kandungan energinya sangat berbeda.

Apakah Minuman Dingin Mengganggu Pencernaan?

Pada sebagian orang, minuman sangat dingin dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti kram perut, atau sensasi “otak beku” ketika diminum terlalu cepat. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa minuman dingin secara umum menghentikan pencernaan atau menyebabkan lemak mengeras di dalam tubuh. Sistem pencernaan memiliki kemampuan mengatur suhu makanan dan minuman yang masuk. Setelah berada di dalam tubuh, minuman akan menyesuaikan diri dengan suhu internal. Jika seseorang merasa kembung setelah minum dingin, penyebabnya mungkin bukan suhu minuman melainkan minuman berkarbonasi, kandungan gula atau pemanis, intoleransi laktosa, minum terlalu cepat, konsumsi dalam jumlah terlalu banyak, atau kondisi pencernaan tertentu.

Minuman Dingin dan Mitos “Lemak Membeku”

Mitos yang cukup populer menyebutkan bahwa air es dapat membuat minyak atau lemak makanan membeku di dalam lambung. Hal tersebut tidak benar, lambung memiliki suhu internal yang relatif hangat dan terus melakukan gerakan serta proses kimiawi untuk mencampur makanan. Lemak tidak berubah menjadi gumpalan permanen hanya karena seseorang minum air dingin. Pemecahan lemak berlangsung melalui proses pencernaan, terutama dengan bantuan empedu dan enzim lipase. Suhu minuman tidak menghentikan proses tersebut.

Minuman Dingin Setelah Makan

Minum air dingin setelah makan umumnya aman bagi orang sehat. Tidak ada bukti ilmiah bahwa kebiasaan tersebut secara langsung menyebabkan perut buncit atau penumpukan lemak. Namun, jika minuman dingin yang dipilih adalah minuman manis berkalori tinggi, konsumsi tersebut dapat meningkatkan total asupan energi. Contohnya makan siang dengan nasi, lauk, dan gorengan kemudian ditambah es teh manis akan menyumbang kalori lebih banyak dibandingkan air putih dingin. Oleh karena itu, perhatian sebaiknya diarahkan pada kandungan minuman, bukan temperatur minumannya.

Apakah Minuman Dingin Dapat Membantu Diet?

Air dingin dapat membantu seseorang merasa lebih segar dan lebih mudah memenuhi kebutuhan cairan. Namun, efeknya terhadap pembakaran energi sangat kecil dan tidak dapat menggantikan defisit energi, aktivitas fisik, atau pola makan seimbang. Beberapa strategi yang lebih efektif adalah:

  • Ganti minuman manis dengan air putih dingin.
  • Pilih teh atau kopi tanpa gula.
  • Batasi sirup, krimer, dan topping.
  • Perhatikan ukuran gelas.
  • Baca label kandungan gula.
  • Konsumsi buah utuh dibandingkan minuman buah berpemanis.
  • Jadikan air putih sebagai minuman utama.

Jika tidak terbiasa dengan air putih, maka tambahkan irisan jeruk nipis, lemon, mentimun, atau daun mint tanpa gula.

Minuman dingin tidak otomatis menyebabkan gemuk. Air putih dingin tanpa gula tidak mengandung kalori yang dapat menyebabkan penumpukan lemak. Suhu minuman hanya memberikan pengaruh kecil terhadap pengeluaran energi dan tidak cukup besar untuk memengaruhi berat badan. Yang perlu diwaspadai adalah minuman dingin yang mengandung gula, sirup, krimer, susu tinggi kalori, atau topping. Konsumsi rutin minuman berpemanis berhubungan dengan peningkatan berat badan dan risiko gangguan metabolik.

Referensi

  1. Water-Induced Thermogenesis Reconsidered: The Effects of Osmolality and Water Temperature on Energy Expenditure after Drinking. (2006). The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism.
  2. Reducing Consumption of Sugar-Sweetened Beverages to Reduce the Risk of Unhealthy Weight Gain In Adults. (2014). e-Library of Evidence for Nutrition Actions.
  3. Sugar-sweetened Beverage Consumption and Weight Gain in Children and Adults: a Systemic Review and Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies and Randomized Controlled Trials. (2023). American Journal of Clinical Nutrition.

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *