Benarkah Rebahan Setelah Makan Dapat Menyebabkan Buncit?

Kalimat “jangan langsung rebahan setelah makan, nanti buncit” sering terdengar di rumah, media sosial, atau obrolan sehari-hari. Namun, apakah benar rebahan setelah makan secara langsung menyebabkan penumpukan lemak di perut? Ketahui jawabannya melalui artikel berikut ini. Jika aktivitas fisik dilakukan setelah makan, otot menggunakan sebagian glukosa dan asam lemak sebagai sumber energi. Sebaliknya jika seseorang langsung beristirahat total, pengeluaran energi cenderung lebih rendah, dan oksidasi lemak dapat lebih kecil dibandingkan saat beraktivitas ringan.

Apa yang Terjadi Setelah Makan?

Setelah makan, tubuh memasuki fase pasca makan (postprandial). Pada fase ini tubuh mencerna makanan, menyerap nutrisi, dan mengatur kadar glukosa, insulin, trigliserida, serta asam lemak bebas. Jika aktivitas fisik dilakukan setelah makan, otot menggunakan sebagian glukosa dan asam lemak sebagai sumber energi. Sebaliknya, jika seseorang langsung beristirahat total, pengeluaran energi cenderung lebih rendah, dan oksidasi lemak dapat lebih kecil dibandingkan saat beraktivitas ringan. Namun, perbedaan pengeluaran energi antara duduk, berdiri, dan berbaring setelah makan tidak sebesar perbedaan antara berbaring dengan berjalan ringan. Artinya yang paling penting bukan hanya posisi, tetapi apakah seseorang tetap bergerak atau benar-benar pasif.

Hubungan Rebahan dan Penumpukan Lemak Perut

Penumpukan lemak di perut (visceral fat) terjadi ketika asupan energi secara konsisten melebihi pengeluaran energi dalam jangka waktu lama. Proses ini dipengaruhi oleh total kalori harian, komposisi makanan, aktivitas fisik, genetik dan distribusi lemak, pola tidur dan stres, serta faktor hormonal.Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa satu kali rebahan setelah makan langsung menyebabkan lemak menumpuk di perut. Namun, kebiasaan makan larut malam, langsung tidur setelah makan besar, dan gaya hidup sedenter secara kronis dapat berkontribusi terhadap peningkatan adipositas gangguan metabolik. 

Sebuah penelitian acak menunjukkan bahwa makan malam larut (sekitar pukul 22.00) yang tumpang tindih dengan waktu tidur menyebabkan intoleransi glukosa, penurunan oksidasi lemak, dan peningkatan penyimpanan lipid dibandingkan makan malam lebih awal (sekitar pukul 18.00). Kondisi ini, jika terjadi berulang berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik.

Rebahan, Aktivitas Ringan, dan Respons Metabolik

Berbagai penelitian intervensi menunjukkan bahwa memutus waktu duduk atau berbaring dengan aktivitas ringan setelah makan dapat memperbaiki respons glukosa dan insulin. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis melaporkan bahwa memutus duduk berkepanjangan dengan istirahat aktivitas terutama berjalan, secara konsisten menurunkan respons glukosa dan insulin pasca makan. Efek terbesar terlihat ketika aktivitas dilakukan setiap 15-20 menit. Penelitian lain menunjukkan bahwa berjalan ringan selama 30 menit setelah makan dapat menurunkan puncak glukosa darah dibandingkan hanya duduk.

Tidur Setelah Makan Apakah Berbeda?

Tidur setelah makan memiliki implikasi yang sedikit berbeda dibandingkan sekadar rebahan sebentar. Saat tidur, tubuh berada dalam kondisi istirahat penuh, laju metabolisme menurun, dan oksidasi lemak dapat berkurang. Makan malam yang sangat dekat dengan waktu tidur dapat menyebabkan tumpang tindih antara periode pasca makan dan tidur. Kondisi ini berpotensi meningkatkan penyimpanan lipid dan mengurangi mobilisasi lemak, terutama jika terjadi secara kronis. Sebuah studi menunjukkan bahwa makan malam larut yang tumpang tindih dengan tidur menyebabkan peningkatan glukosa darah, penurunan oksidasi lemak, dan peningkatan penyimpanan lipid dibandingkan makan malam lebih awal. Namun, ini bukan berarti tidur siang setelah makan siang otomatis membuat buncit. Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan, waktu makan malam, dan kebiasaan tidur.

Rebahan setelah makan tidak secara langsung menyebabkan buncit. Penumpukan lemak di perut lebih ditentukan oleh keseimbangan energi jangka panjang, pola makan, aktivitas fisik, dan faktor metabolik. Namun, kebiasaan makan larut malam, langsung tidur setelah makan besar, dan gaya hidup tidak aktif berolahraga dapat berkontribusi terhadap peningkatan adipositas dan gangguan metabolik. Bagi orang dengan refluks asam lambung, menghindari rebahan atau tidur segera setelah makan sangat disarankan. Bagi orang sehat, berjalan ringan setelah makan lebih bermanfaat daripada hanya berfokus pada posisi tubuh. Jadi, kalimat “jangan rebahan setelah makan, nanti buncit” lebih tepat dipahami sebagai anjuran untuk tidak langsung tidur setelah makan dan untuk tetap aktif, bukan sebagai aturan mutlak bahwa rebahan sebentar otomatis membuat perut buncit.

Referensi

  1. Carbohydrate and fat utilization during rest and physical activity. (2011). ScienceDirect.
  2. Metabolic Effect of Late Dinner in Healthy Volunteers- A Randomized Crossover Clinical Trial. (2020). The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism.
  3. The Elapsed Time and the Midpoint of Sleep Is Associated with Adiposity in Young Women. (2020). MDPI Journal.
  4. The Acute Effects of Interrupting Prolonged Sitting With Regular Activity Breaks on Postprandial Glucose and Insulin in Adults: A Systemic Review and Meta-Analysis. (2026). Willey Online Library.

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *