Mengenal Buah Mengkudu yang Memiliki Aroma Khas dan Menyengat 

Mengkudu merupakan buah tropis yang mudah ditemukan di pekarangan, kebun, dan beberapa wilayah pedesaan Indonesia. Bentuknya tidak terlalu menarik berwarna hijau hingga kekuningan, permukaannya menonjol, dan aromanya cukup menyengat ketika matang. Meski demikian, mengkudu telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional serta mulai diteliti karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Nama ilmiah mengkudu adalah Morinda citrifolia L. Buah ini juga dikenal dengan nama noni, pace, atau keumeudee, bergantung pada setiap daerah. Berbagai bagian tanaman mengkudu termasuk buah, daun, kulit batang, dan akar telah digunakan secara tradisional. Namun, penggunaan tradisional tidak selalu berarti seluruh klaim kesehatannya terbukti melalui uji klinis pada manusia.

Mengapa Aroma Mengkudu Sangat Menyengat?

Aroma mengkudu yang khas terutama muncul ketika buah mulai matang atau terlalu matang. Penelitian menunjukkan bahwa senyawa volatil berupa asam heksanoat dan asam oktanoat merupakan komponen penting yang membentuk aroma asam, tengik, dan menyerupai keju yang kuat pada buah mengkudu matang. Dalam salah satu analisis, asam oktanoat menyumbang sekitar 70% dari total ekstrak senyawa volatil, sedangkan asam heksanoat sekitar 8%. Kedua senyawa tersebut memiliki karakter aroma yang kuat sehingga membuat mengkudu berbeda dari kebanyakan buah tropis lainnya. 

Aroma ini juga mengalami perubahan selama pematangan. Pada tahap awal, buah cenderung lebih keras dan berwarna hijau. Ketika matang, teksturnya menjadi lebih lunak, warnanya berubah menjadi putih kekuningan, dan aromanya semakin intens. Beberapa senyawa asam dapat berubah jumlahnya seiring perkembangan kematangan, sementara senyawa ester beraroma buah mulai terbentuk. Dengan demikian, bau menyengat pada mengkudu bukan berarti buah tersebut busuk. Aroma itu merupakan bagian dari karakter alaminya. Namun, buah tetap harus diperiksa dari segi kebersihan dan kondisi fisik sebelum dikonsumsi.

Kandungan Gizi dan Senyawa Bioaktif

Buah mengkudu mengandung air, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa fitokimia. Kandungan tersebut dapat berbeda berdasarkan varietas, tingkat kematangan, lokasi tumbuh, dan metode pengolahan. Beberapa kelompok senyawa yang telah ditemukan pada Morinda citrifolia antara lain flavonoid, senyawa fenolik, irinoid, lignan, kumarin, antrakuinon, asam organik, terpenoid, dan polisakarida. Tinjauan ilmiah oleh Hou S. (2025) melaporkan bahwa mengkudu memiliki beragam senyawa antioksidan dan metabolit sekunder yang menjadi dasar penelitian terkait aktivitas antiinflamasi, antimikroba, antidiabetes, dan efek biologis lainnya. Namun, kandungan senyawa bioaktif tersebut tidak otomatis menjadikan mengkudu sebagai obat. Hasil uji laboratorium terhadap ekstrak atau senyawa tertentu belum dapat disamakan dengan manfaat mengonsumsi buah mengkudu dalam jumlah kecil sebagai makanan.

Potensi untuk Kesehatan Metabolik

Penelitian terhadap mengkudu menunjukkan adanya potensi aktivitas antidiabetes dan antihipertensi. Beberapa studi praklinis menemukan bahwa ekstrak mengkudu dapat memengaruhi enzim yang berkaitan dengan pencernaan karbohidrat, peradangan, dan metabolisme glukosa. Meski demikian, bukti klinis pada manusia masih terbatas. Konsumsi jus atau ekstrak mengkudu tidak boleh menggantikan obat diabetes, obat tekanan darah, atau anjuran dokter. Pada orang dengan hipertensi mengkudu juga perlu dikonsumsi secara hati-hati. Beberapa produk mengkudu dapat mengandung kalium, dan konsumsi kalium berlebihan beresiko bagi orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal atau menggunakan obat tertentu.

Cara Mengkonsumsi Secara Lebih Aman

Mengkudu memiliki rasa pahit dan aroma yang kuat sehingga sering diolah menjadi sirup, jus, atau produk fermentasi. Dalam proses pengolahan, sebagian produsen menambahkan madu, gula, atau buah lain untuk mengurangi rasa dan aroma yang menyengat. Agar konsumsi lebih bijak maka lakukanlah hal-hal berikut:

1. Pilih buah yang matang dan tidak berjamur.

2. Jangan mengonsumsi bagian tanaman secara berlebihan.

3. Hindari jus dengan tambahan gula yang terlalu banyak.

4. Jangan mengonsumsi ekstrak pekat tanpa informasi dosis.

5. Perhatikan kondisi tubuh setelah konsumsi.

6. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika sedang menggunakan obat rutin.

Siapa yang Perlu Berhati-hati?

Konsumsi mengkudu perlu lebih diperhatikan oleh:

  • Orang dengan penyakit ginjal.
  • Orang dengan gangguan hati.
  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Anak-anak,
  • Pasien yang menggunakan obat hipertensi.
  • Pasien yang mengonsumsi obat penurun gula darah.
  • Pasien yang menggunakan obat dengan pengaruh terhadap kalium.

Beberapa laporan toksikologi menekankan perlunya kehati-hatian pada penggunaan produk mengkudu, terutama dalam bentuk ekstrak atau konsumsi dengan dosis tinggi. Jika muncul mual, diare, nyeri perut, gatal, sesak, perubahan warna kulit, atau keluhan lain setelah mengonsumsi produk mengkudu, konsumsi sebaiknya dihentikan dan dilakukan pemeriksaan medis. Jadi, tertarikkah kamu mencoba buah mengkudu?

Referensi

  1. Analysis of volatile compounds in noni fruit (Morinda citrifolia L.) juice by steam distillation-extraction and solid phase microextraction coupled with GC/AED and GC/MS. (2011). Journal of Food and Drug Analysis.
  2. Insight into the effects of different ripeness levels on the quality and flavor chemistry of Noni fruit (Morinda citrifolia L.) (2024). ScienceDirect.
  3. Morinda citrifolia L.: A Comprehensive Review on Phytochemistry, Pharmacological Effects, and Antioxidant Potential. (2025). antioxidants MDPI Journal.

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *