Kenali Diet Protokol Autoimun (AIP)! Makanan yang Dianjurkan dan Perlu Dibatasi

Penyakit autoimun merupakan kondisi dimana sistem kekebalan tubuh (imun) tidak bisa mengenali sel dan jaringan tubuh sendiri sehingga menyerang sel itu sendiri dan dianggap sebagai ancaman. Hal tersebut menyebabkan peradangan pada berbagai organ seperti sendi, saluran cerna hingga kelenjar tiroid. Penyakit autoimun yang sering dijumpai antara lain lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, dan lain sebagainya. Hingga saat ini, penyebab penyakit autoimun belum diketahui secara pasti, tetapi autoimun dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, infeksi, dan gaya hidup.

Akhir-akhir ini, perubahan gaya hidup sehat termasuk pola makan yang sehat banyak dilakukan sebagai bagian dari upaya membantu mengelola penyakit autoimun. Meskipun tidak dapat menyembuhkan penyakit, pola makan yang baik diyakini dapat membantu mengurangi peradangan, menjaga kesehatan saluran cerna, serta mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh. Salah satu pola makan yang cukup banyak mendapat perhatian adalah Diet Protokol Autoimun atau Autoimmune Protocol (AIP). Simak lebih dalam penjelasan berikut ini!

Apa Itu Diet Protokol Autoimun (AIP)?

Diet Protokol Autoimun (AIP) merupakan perkembangan dari Diet Paleo, yakni pola makan yang berfokus pada konsumsi makanan utuh (whole foods) dan membatasi makanan olahan. Diet AIP dikenal sebagai pola makan yang dilakukan dengan menghindari beberapa jenis makanan untuk sementara waktu. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan penyakit autoimun, tetapi membantu mengetahui apakah ada makanan tertentu yang memicu atau memperburuk gejala yang dialami. Selama menjalani Diet AIP, seseorang dianjurkan mengonsumsi makanan alami yang minim proses pengolahan atau whole foods, seperti sayuran, buah, ikan, dan daging tanpa lemak. Setelah beberapa minggu, makanan yang sebelumnya dihindari akan ditambahkan kembali satu per satu. Dengan cara ini, penderita dapat mengetahui makanan mana yang dapat ditoleransi tubuh dan mana yang justru memicu keluhan.  

Bagaimana Cara Kerja dari Diet AIP?

Secara prinsip, Diet AIP bertujuan untuk mengurangi peradangan, menjaga kesehatan saluran cerna, dan membantu mengendalikan gejala penyakit autoimun. Caranya adalah dengan menghindari sementara makanan yang diduga dapat memicu respons sistem kekebalan tubuh, kemudian menambahkan kembali makanan tersebut secara bertahap untuk melihat bagaimana tubuh bereaksi. Diet AIP terdiri atas tiga tahap, yaitu fase eliminasi, fase reintroduksi (pengenalan kembali), dan fase pemeliharaan.  

1. Fase Eliminasi

Fase eliminasi merupakan tahap awal Diet AIP, yaitu dengan menghentikan sementara konsumsi makanan yang diduga dapat memicu peradangan atau memperburuk gejala. Fase ini umumnya berlangsung selama 6 minggu hingga 6 bulan, tergantung kondisi masing-masing individu.

2. Fase Pengenalan Kembali

Setelah gejala membaik, makanan yang sebelumnya dihindari diperkenalkan kembali secara bertahap, satu per satu. Tujuannya untuk mengetahui makanan mana yang dapat ditoleransi tubuh dan makanan mana yang memicu munculnya gejala. 

3. Fase Pemeliharaan

Pada tahap ini, penderita mulai menerapkan pola makan jangka panjang berdasarkan hasil fase reintroduksi. Makanan yang tidak menimbulkan gejala dapat kembali dikonsumsi, sedangkan makanan yang terbukti memicu keluhan tetap dibatasi. Tujuannya untuk menjaga pola makan yang lebih beragam, tetap bergizi, dan membantu mengendalikan gejala penyakit autoimun

Makanan yang Dianjurkan dalam Diet AIP

Berikut daftar makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi.

1. Sumber Protein

Daging sapi tanpa lemak, daging ayam, daging kambing, ikan (teri, lele, salmon, kakap, nila, tuna), seafood (kerang, kepiting, udang, lobster, gurita, cumi-cumi). Perlu diperhatikan kembali jika terdapat alergi pada bahan makanan tertentu.

2. Sayuran

Hampir semua sayuran, terutama sayuran hijau seperti bayam, brokoli, sawi, wortel, kubis, mentimun, labu.

3. Buah-buahan

Apel, pisang, pepaya, pir, semangka, melon, beri, kelapa muda, dan lain sebagainya

4. Lemak Sehat

Minyak zaitun, minyak kelapa, alpukat, dan buah zaitun.

5. Makanan Fermentasi non-susu

Kimchi, acar sayuran, kefir

6. Rempah dan bumbu alami 

Rempah dan bumbu yang tidak berasal dari biji meliputi jahe, kunyit, bawang putih, kemangi, kucai, daun salam,daun timi, rosemary, oregano, kayu manis,saffron, daun mint.

7. Minuman (Air putih, teh herbal, teh hijau, Chamomile)

8. Pemanis alami (Madu dan gula kelapa)

Makanan yang Perlu Dibatasi

Berikut daftar makanan yang dianjurkan untuk dibatasi dalam konsumsinya.

1. Biji-bijian dan Serealia

Gandum, oat, jagung, beras, roti, pasta, mi, sereal, dan makanan yang terbuat dari tepung. Tepung terutama tepung terigu mengandung gluten yang dapat memicu peradangan pada saluran cerna.

2. Sayuran Kelompok Nightshade

Tomat, kentang, cabai, terong, paprika, dan produk olahannya seperti tomat. Sayuran ini mengandung senyawa glikoalkaloid beracun seperti solanin, tomatin, chaconin, dan solanosin yang berfungsi sebagai pelindung dari serangga, hewan, bakteri. Senyawa-senyawa tersebut dapat memicu peradangan, kerusakan tulang dan sendi, bahkan gejala mual, sakit perut, muntah, diare, dan kejang.

3. Kacang-kacangan dan Biji-bijian

Kedelai, kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kacang polong, lentil almond, mete, kenari, wijen, chia seed, biji bunga matahari, serta produk olahannya seperti minyak canola, minyak kenari, tepung/susu almond. Senyawa yang terkandung seperti lektin dapat memicu penyakit autoimun.

4. Telur dan Produk Olahannya

Telur ayam, telur bebek, dan produk olahannya seperti mayones dapat memicu peradangan

5. Produk Susu

Susu, keju, yogurt, krim, mentega, dan produk olahan susu lainnya. Protein yang terkandung pada susu seperti kasein dapat memicu respons sistem kekebalan tubuh pada sebagian penderita penyakit autoimun. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan sehingga gejala penyakit berpotensi menjadi lebih berat.

6.  Beberapa Rempah dan bumbu alami 

Adas, jintan hitam, jintan putih, ketumbar, pala, biji seledri.

7. Makanan Olahan

Makanan cepat saji, makanan kemasan, makanan yang mengandung pewarna, pengawet, atau bahan tambahan pangan.

8. Minuman

Kopi, minuman beralkohol, minuman bersoda, dan minuman tinggi gula. 

9. Pemanis Tambahan

Gula pasir, sirup, minuman manis, serta pemanis buatan seperti aspartam, sukralosa, sakarin, dan stevia.

Apakah Diet AIP Terbukti Efektif?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Diet AIP dapat membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pada sebagian penderita penyakit autoimun, terutama penyakit radang usus (inflammatory bowel disease atau IBD) dan tiroiditis Hashimoto. Namun, penelitian yang telah dilakukan masih melibatkan jumlah peserta yang relatif sedikit sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi untuk semua penderita penyakit autoimun. Diet ini lebih tepat dijadikan sebagai terapi pendamping yang dilakukan bersamaan dengan pengobatan dan pemantauan oleh tenaga kesehatan. 

Perlu Diperhatikan!

Dengan pembatasan  yang cukup banyak pada kelompok makanan, Diet AIP berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi apabila dilakukan tanpa perencanaan yang tepat. Dengan demikian, diet ini sebaiknya dijalankan dengan pendampingan dokter atau ahli gizi, terutama bagi anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lansia, serta orang yang memiliki kondisi gizi tertentu. Pendampingan ini penting dilakukan agar kebutuhan zat gizi tetap terpenuhi tanpa mengganggu pengelolaan penyakit autoimun. 

Referensi 

  1. AIP (Autoimmune Protocol) Diet: A Beginner’s Guide | Healthline
  2. An Autoimmune Protocol Diet Improves Patient-Reported Quality of Life in Inflammatory Bowel Disease (2019), Crohn’s & Colitis 360 
  3. Autoimmune protocol diet: A personalized elimination diet for patients with autoimmune diseases (2024), Metabolism open
  4. Autoimmune Protocol Diet (AIP) for Food Allergies: A Novel Immunonutrition Approach (2026), Applied Sciences 
  5. Dairy: Friend or Foe? Bovine Milk-Derived Extracellular Vesicles and Autoimmune Diseases (2024), International journal of molecular sciences 
  6. Gluten is a Proinflammatory Inducer of Autoimmunity (2024), Journal of Translational Gastroenterology
  7. The evaluation of nightshade elimination diet (NED) on inflammatory and rheumatologic markers of rheumatoid arthritis patients: study protocol for a randomized controlled trial (2024), Trials    

Editor: Hasna Nur Mufidah,S.Tr.Gz. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok