Mengulas Food Taboo (Pantangan Makan) dari Sudut Pandang Gizi dan Budaya di Indonesia

Pernahkah Kamu mendengar larangan bagi ibu hamil untuk makan nanas atau larangan makan ikan setelah melahirkan? Kepercayaan semacam ini merupakan food taboo yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya masyarakat. 

Lantas, apakah semua food taboo perlu dihindari? Ataukah sebagian di antaranya hanya merupakan mitos yang terus diwariskan? Untuk menjawabnya, penting melihat food taboo tidak hanya dari sisi budaya, tetapi juga berdasarkan bukti ilmiah di bidang gizi. 

Mengenal Food Taboo, Tradisi Budaya di Masyarakat

Food taboo adalah larangan atau pantangan mengonsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada adat istiadat, kepercayaan, agama, maupun norma sosial. Pantangan ini umumnya diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari.

Setiap daerah bisa memiliki pantangan makanan yang berbeda. Ada makanan yang dianggap baik untuk dikonsumsi di suatu daerah, tetapi justru dihindari di daerah lain karena dipercaya dapat membawa dampak tertentu. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan makanan tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizinya, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai budaya, tradisi, dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat.  

Ragam Food Taboo yang Masih Ditemukan di Indonesia

Di berbagai negara, termasuk Indonesia, food taboo paling sering diterapkan pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak-anak. Berikut merupakan contoh food taboo yang masih banyak dijumpai di masyarakat Indonesia. 

1.  Buah-buahan

Di beberapa daerah di Indonesia termasuk suku Jawa, buah seperti nanas, durian, nangka, dan mangga masih menjadi food taboo bagi ibu hamil. Nanas dan durian sering jadi pantangan bagi ibu hamil karena dipercaya dapat membuat tubuh ibu dan janin menjadi “panas” sehingga dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko keguguran. Selain itu mengonsumsi nangka dapat membuat bayi lahir dengan tubuh yang lengket seperti getah nangka. Konsumsi mangga juga dipercaya dapat membuat keguguran. Ibu hamil suku Tengger juga memiliki pantangan terhadap salak karena diyakini sang anak akan berkulit kasar seperti salak di kemudian hari.

2. Sayuran

Di sebagian masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, ibu hamil dipercaya perlu menghindari beberapa jenis sayuran, seperti terong, kangkung, bunga pisang, kubis, dan cabai. Terong dipercaya dapat membuat bayi terbungkus selaput tebal sehingga persalinan menjadi lebih sulit. Kangkung diyakini dapat menyebabkan persalinan sulit, perdarahan, dan risiko bayi kembar siam. Sementara itu, bunga pisang dipercaya dapat membuat janin berukuran kecil, sedangkan cabai dianggap dapat membuat bayi mudah sakit atau sering menangis.

3. Ikan dan Seafood

Di salah satu Desa Bulubete, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terdapat beberapa pantangan misalnya ibu hamil memiliki pantangan dalam mengonsumsi cumi-cumi karena dipercaya dapat membuat bayi lahir dengan kulit berwarna hitam. Selain itu, gurita juga dipantangkan karena diyakini dapat menyebabkan proses persalinan menjadi lebih sulit, meningkatkan risiko perdarahan saat melahirkan, bahkan memicu keguguran, serta membuat bentuk tubuh bayi menjadi tidak normal. 

Konsumsi kerang juga dipercaya dapat menyebabkan bentuk tubuh bayi menjadi tidak normal. Konsumsi Ikan cakalang dapat meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan dan konsumsi udang diyakini membuat bayi lahir dengan postur tubuh bungkuk, sedangkan kepiting dipercaya dapat memengaruhi sifat anak sehingga menjadi suka mencubit.

4. Makanan Panas 

Masyarakat Suku Tengger memiliki pantangan pada makanan yang dianggap bersifat “panas” seperti cabai, merica, nanas, dan tape. Masyarakat setempat percaya bahwa makanan tersebut dapat membuat janin menjadi “kepanasan” dan meningkatkan risiko keguguran.

5. Telur

Telur juga termasuk makanan yang sering jadi pantangan, terutama bagi ibu menyusui dan anak-anak. Ada anggapan bahwa telur dapat menyebabkan luka menjadi gatal, sulit sembuh, atau membuat anak mengalami bisul. 

5. Air Dingin atau Es

Masyarakat Madura juga percaya bahwa kebiasaan minum es dapat membuat bayi lahir dengan ukuran tubuh yang besar sehingga proses persalinan menjadi lebih sulit. Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa minuman dingin dapat meningkatkan risiko perdarahan saat melahirkan atau menyebabkan bayi lahir kembar siam.

Dampak Food Taboo terhadap Gizi 

Food taboo tidak selalu berdampak negatif. Namun, jika seseorang menghindari makanan bergizi tanpa menggantinya dengan sumber zat gizi lain yang setara, kebutuhan gizi harian dapat menjadi tidak terpenuhi. Kondisi ini terutama perlu diperhatikan pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak-anak yang memiliki kebutuhan gizi lebih tinggi. Pantangan terhadap makanan seperti ikan, telur, daging, atau sayuran tertentu dapat mengurangi asupan protein, zat besi, asam folat, vitamin, dan mineral yang penting bagi kesehatan. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pantangan makanan yang terlalu ketat selama kehamilan dapat meningkatkan risiko pada ibu hamil, janin, bayi dan anak-anak. Pada ibu hamil meningkatkan risiko anemia, kekurangan energi kronis (KEK), dan risiko komplikasi persalinan. Pada janin dan bayi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, hingga stunting. Sementara pada anak-anak akan mengganggu proses tumbuh kembang akibat kekurangan zat gizi.

Tidak Semua Food Taboo Bertentangan dengan Ilmu Gizi

Perlu dipahami bahwa tidak semua food taboo merupakan mitos. Namun, apabila pantangan tersebut membuat seseorang menghindari makanan bergizi tanpa menggantinya dengan sumber zat gizi lain yang setara, kebutuhan gizi dapat terganggu. Misalnya, pantangan mengonsumsi ikan dan seafood dapat mengurangi asupan protein, asam lemak omega-3, vitamin D, dan yodium yang penting untuk mendukung pertumbuhan janin dan perkembangan otak. 

Begitu juga dengan pantangan terhadap telur yang dapat menurunkan asupan protein, kolin, dan vitamin B12, atau pantangan terhadap buah-buahan dan sayuran yang berisiko mengurangi asupan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan. Di sisi lain, pantangan terhadap makanan yang dianggap “panas” maupun minuman dingin belum terbukti secara ilmiah dapat menyebabkan keguguran, pendarahan, atau bayi lahir dengan kondisi tertentu.   

Menyikapi Food Taboo dengan Bijak

Pendekatan yang paling bijak bukanlah menghapus tradisi, melainkan mengedukasi masyarakat mengenai alasan di balik setiap pantangan. Jika suatu makanan memang perlu dihindari karena alasan budaya atau agama, kebutuhan gizinya tetap dapat dipenuhi melalui bahan pangan lain yang memiliki kandungan zat gizi serupa.

Dengan memahami food taboo dari sudut pandang budaya dan ilmu gizi secara bersamaan, masyarakat dapat tetap melestarikan tradisi sekaligus memenuhi kebutuhan gizi untuk menjaga kesehatan.

Referensi 

  1. Food Taboo and associated factors among pregnant women attending antenatal clinics at Bahir Dar City, North West Ethiopia, 2021: cross sectional study (2023), Scientific reports 
  2. Food taboos and suggestions among Madurese pregnant women: a qualitative study (2018), Journal of Ethnic Foods
  3. Makanan Tabu pada Ibu Hamil Suku Tengger (2014), Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
  4. Persepsi Ibu Hamil Terhadap Makanan Tabu di Desa Bulubete Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi (2019), JKS

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok