Bukan Cuma Buahnya, Jantung Pisang Juga Punya Cerita Gizi

Apple Friends, kalau mendengar kata pisang, bagian yang paling sering terpikir tentu buahnya. Rasanya manis, mudah ditemukan, dan bisa langsung dimakan begitu matang. Tapi, pernahkah terpikir bahwa bagian lain dari pohon pisang juga bisa masuk ke piring makan?

Salah satunya adalah jantung pisang. Bentuknya yang khas dengan warna merah keunguan mungkin membuatnya terlihat seperti bagian tanaman yang tidak terlalu istimewa. Bahkan, setelah buah pisang berkembang, jantungnya sering kali dibiarkan atau dibuang. Padahal, bagian ini sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan masakan di berbagai daerah, termasuk Indonesia.

Jantung pisang bisa diolah menjadi tumisan, sayur lodeh, gulai, hingga pepes. Tidak hanya mudah diolah, ternyata bagian ini juga menyimpan kandungan gizi yang cukup menarik.

Ada Serat yang Bisa Diandalkan 

Salah satu alasan jantung pisang menarik untuk dibicarakan adalah kandungan seratnya. Jumlahnya memang dapat berbeda tergantung varietas pisang, bagian jantung yang digunakan, hingga cara pengolahannya.  Kandungan serat pada bunga pisang dari dua varietas sekitar 4,96–5,74 gram per 100 gram bahan. 

Asupan serat yang cukup membantu mendukung fungsi saluran pencernaan dan membuat makanan lebih mengenyangkan. Meskipun demikian, jantung pisang bukan satu-satunya sumber serat. Sayuran lain, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian juga perlu tetap hadir dalam pola makan sehari-hari. 

Bukan Sumber Protein Utama, Tapi Tetap Punya Protein  

Jangan berharap jantung pisang bisa menggantikan lauk seperti ikan, telur, ayam, atau tempe. Kandungan proteinnya memang tidak setinggi bahan makanan tersebut. Meski begitu, jantung pisang tetap mengandung protein. Penelitian pada dua varietas bunga pisang menemukan kandungan protein sekitar 1,62–2,07 gram per 100 gram bahan. Jumlah ini menunjukkan bahwa jantung pisang memiliki kontribusi zat gizi, meskipun lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari menu, bukan sebagai sumber protein utama.

Di Balik Warnanya, Tersimpan Senyawa Bioaktif 

Cerita jantung pisang ternyata tidak berhenti pada serat dan protein. Bahan pangan ini juga mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti polifenol, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan sterol. Beberapa penelitian menemukan bahwa ekstrak atau bagian tertentu dari jantung pisang memiliki aktivitas antioksidan dan antihiperglikemik. Aktivitas tersebut berkaitan dengan keberadaan senyawa fenolik dan komponen bioaktif lainnya.

Meskipun demikian, terdapat satu hal yang perlu digaris bawahi. Menemukan aktivitas antioksidan dalam penelitian laboratorium tidak otomatis berarti makan jantung pisang dapat mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Sebagian bukti mengenai manfaat bioaktif jantung pisang masih berasal dari penelitian awal atau penelitian berbasis ekstrak. Jadi, klaim kesehatan yang terlalu jauh tetap perlu dihindari.

Cara Mengolah Juga Perlu Diperhatikan 

Jantung pisang memang punya potensi sebagai bahan makanan bergizi, tetapi cara mengolahnya tetap perlu diperhatikan. Jantung pisang yang dimasak dengan banyak santan, minyak, garam, atau gula tentu akan memiliki kandungan energi dan zat gizi yang berbeda dibandingkan jika dimasak secara sederhana.

Oleh karena itu, jangan hanya melihat satu bahan makanan dan langsung menyebutnya “sehat” atau “tidak sehat”. Lihat juga bagaimana bahan tersebut diolah dan apa saja yang menyertainya. Jantung pisang bisa ditumis dengan sedikit minyak, dimasak menjadi sayur dengan kuah yang tidak terlalu tinggi garam, atau dipadukan dengan sumber protein seperti ikan dan tempe. Dengan begitu, jantung pisang tidak hanya menjadi sayuran pendamping, tetapi bagian dari menu yang lebih beragam.

Sederhana, Lokal, dan Sayang Untuk Dilewatkan 

Jantung pisang mungkin tidak sepopuler buahnya. Bentuknya sederhana, harganya relatif terjangkau, dan keberadaannya sering kali dianggap biasa saja. Namun, justru dari bahan yang sederhana ini kita bisa mendapatkan serat, sejumlah protein, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif.

Jadi, tidak selamanya makanan bergizi harus terlihat mewah atau mahal. Bahan pangan lokal yang sering kita jumpai di sekitar juga bisa menjadi bagian dari pola makan yang beragam.

Pada akhirnya, jantung pisang bukanlah “superfood” yang bisa menggantikan makanan lain. Makanan tersebut hanya salah satu pilihan bahan pangan yang menarik untuk dimasukkan ke dalam menu sehari-hari. Bukan cuma buahnya yang punya cerita, bagian jantungnya pun ternyata punya cerita gizi yang layak untuk dikenali.

Referensi 

  1. Banana inflorescence: Its bio-prospects as an ingredient for functional foods (2021), Trends in Food Science and Technology
  2. Food from banana inflorescences and their antioxidant properties: An exploratory case in Thailand (2022), International Journal of Gastronomy and Food Science
  3. Investigation of dietary fiber, protein, vitamin E, and other nutritional compounds of banana flower of two cultivars grown in China | African Journal of Biotechnology
  4. The medicinal benefits, phytochemical constituents and antioxidant properties of banana blossom: A mini review (2021), Healthscope 

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *