Binge Eating Disorder, Makan Berlebihan yang Sulit Dikendalikan  

Pernah merasa ingin terus makan meskipun sebenarnya sudah kenyang? Sesekali makan lebih banyak dari biasanya tentu bukan sesuatu yang aneh. Hal ini bisa terjadi ketika sedang lapar, menikmati makanan favorit, atau berada di acara tertentu. Namun, jika kebiasaan tersebut sering terjadi dan terasa sulit untuk dihentikan, kondisi ini perlu diperhatikan. 

Salah satu kondisi yang berkaitan dengan pola makan tersebut adalah Binge Eating Disorder (BED). Kondisi ini bukan hanya sekadar soal terlalu banyak makan apalagi hanya karena seseorang dianggap tidak mampu menahan nafsu makan. 

Binge Eating Disorder (BED) 

Binge Eating Disorder adalah gangguan makan ketika seseorang mengalami episode makan berlebihan secara berulang dan merasa sulit mengendalikan apa serta berapa banyak makanan yang dikonsumsi. Saat kondisi tersebut, seseorang bisa makan lebih cepat dari biasanya, makan terus sampai merasa kenyang, dan tetap ingin makan meskipun tidak merasa lapar. Setelah itu, tidak jarang muncul perasaan malu, bersalah, dan menyesal dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Hal yang perlu dipahami, BED tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan berat badan atau bentuk tubuh. Seseorang dengan berat badan normal maupun berlebih dapat mengalami gangguan makan ini. 

Apa saja Tanda-tanda BED?

Seseorang dengan Binge Eating Disorder (BED) umumnya mengalami tiga dari lima gejala antara lain

  1. Makan jauh lebih cepat
  2. Sulit berhenti makan meski sudah kenyang
  3. Tetap makan meski sebenarnya tidak lapar
  4. Cenderung makan sendirian karena merasa malu dengan jumlah makanan
  5. Merasa malu, bersalah, atau menyesal setelah makan 

Bukan Sekadar Makan Banyak 

Makan berlebihan sesekali tidak otomatis berarti seseorang mengalami BED. Perbedaan utamanya terletak pada pola yang terjadi secara berulang dan adanya perasaan kehilangan kendali.

Seseorang yang makan terlalu banyak saat perayaan atau setelah melewatkan waktu makan, misalnya, belum tentu mengalami BED. Sebaliknya, jika episode makan dalam jumlah banyak terjadi berulang dan seseorang merasa tidak mampu mengendalikan dirinya selama episode tersebut, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

BED juga berbeda dengan bulimia nervosa. Pada bulimia, episode makan berlebihan biasanya diikuti perilaku kompensasi, seperti sengaja memuntahkan makanan, berpuasa secara ekstrem, atau berolahraga secara berlebihan. Sementara itu, perilaku kompensasi tersebut bukan merupakan ciri utama BED. 

Mengapa BED Bisa Terjadi?  

BED tidak muncul hanya karena seseorang memiliki nafsu makan yang besar. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi munculnya kondisi ini. Salah satunya adalah kondisi emosional. Ketika sedang stres, cemas, sedih, atau mengalami tekanan tertentu, sebagian orang mungkin menjadikan makanan sebagai cara untuk merasa lebih nyaman. Makanan memang dapat memberikan rasa senang atau nyaman untuk sementara, tetapi pola ini bisa menjadi masalah jika terjadi berulang.

Selain itu, diet yang terlalu ketat juga dapat mempengaruhi seperti kebiasaan membatasi makanan secara berlebihan atau sering melewatkan waktu makan dapat membuat tubuh merasa sangat lapar. Pada beberapa orang, kondisi tersebut dapat memicu keinginan makan dalam jumlah banyak. Adapun faktor lain seperti lingkungan, kebiasaan makan, genetik, dan lain sebagainya dapat menjadi penyebab dari BED.

Dampak Binge Eating Disorder bagi Kesehatan 

Binge Eating Disorder tidak hanya berdampak pada pola makan, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Ketika episode makan berlebihan terjadi berulang, asupan energi dapat melebihi kebutuhan tubuh dan pada sebagian orang dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan metabolik seperti kadar gula darah, tekanan darah, dan lemak darah yang tidak terkontrol. Meski begitu, BED tidak selalu ditandai dengan berat badan berlebih karena kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja.

Dampaknya juga dapat dirasakan dari sisi psikologis. Setelah makan dalam jumlah banyak, seseorang mungkin merasa malu, bersalah, menyesal, atau kecewa pada dirinya sendiri. Jika perasaan tersebut terus berulang, hubungan dengan makanan bisa menjadi semakin tidak sehat dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Seseorang bahkan dapat menghindari makan bersama orang lain atau terlalu memikirkan makanan dan berat badan. Oleh karena itu, Binge Eating Disorder sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai kebiasaan makan terlalu banyak, tetapi sebagai kondisi yang perlu dipahami dan ditangani dengan tepat. 

Referensi 

  1. Binge Eating Disorder (2022), Nat Rev Dis Primers
  2. Overview- Binge eating disorder | Nhs.uk
  3. Subclinical binge eating symptoms in early adolescence and its preceding and concurrent factors: a population-based study (2022), Journal of Eating Disorders

Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner TikTok