Fenomena anak yang menjadi lebih aktif, sulit diatur, atau mengalami tantrum setelah mengonsumsi makanan manis cukup sering membuat orang tua mengaitkannya langsung dengan gula. Misalnya, setelah makan permen, cokelat, kue, atau minuman manis, anak terlihat lebih bersemangat dan kemudian menjadi sulit ditenangkan. Namun, apakah gula memang secara langsung menyebabkan tantrum? Jika melihat hubungan antara konsumsi gula dan perubahan perilaku anak ternyata tidak sesederhana itu. Sebelum menganggap “anak tantrum karena kebanyakan gula”, simak faktanya dibawah ini!
Benarkah gula menyebabkan anak tantrum?
Tantrum merupakan bagian dari perkembangan perilaku anak, terutama pada usia balita. Anak dapat menangis, berteriak, marah, berguling, atau menolak sesuatu ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ketika ia belum mampu mengungkapkan emosinya dengan baik. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti rasa lapar, kelelahan, mengantuk, frustasi, dan kemampuan anak dalam mengatur emosinya.
Beberapa penelitian hubungan antara gula dan perilaku anak telah diteliti sejak lama. Salah satu meta-analisis yang diterbitkan dalam JAMA menganalisis 23 studi dan tidak menemukan adanya efek bermakna gula terhadap perilaku maupun kemampuan kognitif anak. Disisi lain, penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman manis memiliki hubungan dengan risiko hiperaktivitas pada anak. Meskipun demikian, rata-rata penelitian lebih menunjukkan gula tidak terbukti menyebabkan tantrum dan hiperaktivitas pada anak.
Mengapa Anak Terlihat Lebih Aktif Setelah Makan Manis?
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah konteks ketika makanan manis diberikan. Anak biasanya mendapatkan permen, cokelat, es krim, atau minuman manis dalam situasi yang menyenangkan, misalnya saat pesta ulang tahun, bermain, atau berkumpul bersama teman. Kondisi lingkungan tersebut sendiri dapat membuat anak lebih bersemangat dan aktif.
Selain itu, persepsi orang tua juga dapat memengaruhi bagaimana perilaku anak dinilai. Ketika orang tua sudah meyakini bahwa gula membuat anak hiperaktif, perilaku anak yang sebenarnya normal dapat lebih mudah dianggap sebagai akibat makanan manis. Hal ini juga menjadi salah satu kemungkinan yang dibahas dalam penelitian mengenai hubungan gula dan perilaku anak.
Bukan Tantrumnya yang Menjadi Masalah, tetapi Pola Konsumsinya
Meskipun gula tidak terbukti secara langsung menyebabkan tantrum, bukan berarti makanan manis boleh diberikan tanpa batas. Makanan dan minuman tinggi gula, terutama yang mengandung free sugars, dapat memberikan energi cukup tinggi tetapi relatif sedikit zat gizi penting.
WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars pada anak dan orang dewasa dibatasi hingga kurang dari 10% total energi harian, dengan manfaat tambahan apabila dapat ditekan hingga di bawah 5%. Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman, serta gula alami yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.
Pembatasan ini lebih berkaitan dengan kesehatan jangka panjang, seperti risiko karies gigi, kelebihan asupan energi, dan peningkatan risiko berat badan berlebih, bukan karena gula terbukti menyebabkan tantrum.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Daripada melarang seluruh makanan manis karena takut anak tantrum, orang tua dapat menerapkan pola konsumsi yang lebih terkontrol. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Batasi makanan dan minuman tinggi gula, terutama minuman berpemanis.
- Jangan menjadikan makanan manis sebagai hadiah setiap kali anak melakukan sesuatu yang baik.
- Utamakan air putih dibandingkan minuman manis.
- Sediakan camilan yang lebih bergizi, seperti buah, yoghurt tanpa tambahan gula, telur, dan lain sebagainya.
- Tetap berikan jadwal makan dan camilan secara teratur agar anak tidak terlalu lapar.
- Perhatikan pemicu tantrum lain, seperti kelelahan, kurang tidur, lapar, atau perubahan rutinitas.
WHO juga menekankan pentingnya mengurangi paparan anak terhadap makanan dan minuman tinggi free sugars sebagai bagian dari lingkungan pangan yang lebih sehat.
Referensi
- Association between free sugars intake and early psychopathological problems (2022), Journal of child health care : for professionals working with children in the hospital and community
- Association between Hyperactivity and SSB Consumption in Schoolchildren: A Cross-Sectional Study in China (2023), Nutrients
- Guideline: sugars intake for adults and children | World Health Organization
- Is it true that… consuming too much sugar can make you hyperactive? | The Guardian
- The effect of sugar on behavior or cognition in children. A meta-analysis (1995), JAMA
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


