Saat bayi mulai memasuki usia 6 bulan, banyak orang tua mulai sibuk mencari tahu soal MPASI. Mulai dari menu pertama, tekstur makanan, sampai makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh diberikan. Di saat yang sama, berbagai informasi tentang MPASI juga mudah ditemukan di media sosial maupun dari cerita keluarga. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut benar. Ada aturan MPASI yang memang punya dasar ilmiah, tetapi ada juga yang hanya berasal dari kebiasaan atau kepercayaan yang sudah dilakukan turun-temurun.
Misalnya, benarkah bayi harus menunggu tumbuh gigi sebelum makan makanan yang lebih bertekstur? Apakah telur tidak boleh diberikan terlalu dini? Lalu, apakah MPASI harus selalu hambar? Daripada semakin bingung, yuk, kenali beberapa mitos MPASI yang masih sering dipercaya orang tua dan cari tahu faktanya.
Benarkah MPASI Harus Menunggu Bayi Tumbuh Gigi?
Mitos. Bayi tidak perlu menunggu tumbuh gigi untuk mulai MPASI. Banyak yang mengira bayi baru bisa makan ketika gigi pertamanya muncul. Padahal, gigi bukan satu-satunya penentu kesiapan bayi untuk makan. Sekitar usia 6 bulan, bayi umumnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda siap menerima makanan. Misalnya, sudah bisa duduk dengan bantuan, mampu menegakkan kepala dan leher, serta mulai bisa mengontrol gerakan mulutnya.
WHO merekomendasikan pemberian makanan pendamping ASI mulai sekitar usia 6 bulan karena kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai meningkat dan tidak lagi cukup hanya dari ASI. Makanan dapat dimulai dengan tekstur yang sesuai kemampuan bayi, kemudian ditingkatkan secara bertahap seiring perkembangannya.
MPASI Harus Hambar agar Bayi Tidak Suka Makanan Asin?
Mitos. Faktanya, MPASI memang tidak perlu ditambahkan gula dan garam, tetapi bukan berarti makanan harus terasa benar-benar hambar. Bayi dapat mengenal berbagai rasa alami dari bahan makanan yang diberikan. Rasa manis dari buah, gurih dari ikan atau telur, hingga aroma dari berbagai bahan makanan dapat membantu memperkenalkan pengalaman makan yang beragam.
ESPGHAN (European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition) merekomendasikan agar gula dan garam tidak ditambahkan ke dalam makanan pendamping. WHO juga menekankan pentingnya memberikan makanan yang beragam dan bergizi, bukan sekadar makanan yang mengenyangkan.
Bayi Tidak Boleh Makan Telur karena Bisa Alergi?
Mitos. Telur tidak harus dihindari hanya karena bisa menyebabkan alergi.
Telur memang termasuk salah satu makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. Namun, bukan berarti telur harus ditunda sampai bayi lebih besar. Telur justru dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein hewani dalam MPASI. WHO menganjurkan pemberian makanan beragam, termasuk makanan dari sumber hewani seperti telur, ikan, daging, dan unggas.
MPASI Harus Selalu Dibuat Halus?
Mitos. Pada awal MPASI, makanan memang dapat diberikan dalam bentuk yang lebih halus atau dilumatkan. Namun, teksturnya tidak perlu terus-menerus dibuat seperti bubur yang sangat halus. Seiring bertambahnya usia, bayi perlu dikenalkan dengan tekstur makanan yang semakin beragam. Hal ini membantu bayi belajar mengunyah dan mengembangkan kemampuan makan.
WHO merekomendasikan peningkatan tekstur dan variasi makanan secara bertahap sesuai perkembangan anak. Pada sekitar usia 8 bulan, sebagian besar bayi sudah mulai dapat mengonsumsi makanan yang bisa digenggam sendiri atau finger food. Tentunya, makanan tetap perlu disiapkan dengan ukuran dan tekstur yang aman untuk mengurangi risiko tersedak.
Yang Penting Banyak, Tidak Masalah Kalau Menunya Itu-Itu Saja?
Mitos, justru keberagaman makanan penting untuk diperhatikan.
MPASI bukan hanya soal membuat bayi kenyang. Pada usia ini, bayi sedang membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
Oleh karena itu, menu MPASI sebaiknya tidak hanya berisi nasi dan sayur. Sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging juga perlu diperhatikan. Buah, sayuran, serta sumber lemak dapat melengkapi kebutuhan zat gizi anak.
Madu Lebih Sehat daripada Gula, Jadi Aman untuk MPASI?
Ini salah satu mitos yang perlu benar-benar dihindari.
Madu memang sering dianggap sebagai pemanis alami yang lebih sehat. Namun, madu tidak boleh diberikan kepada bayi berusia di bawah 12 bulan.
Alasannya bukan sekadar karena kandungan gulanya. Madu dapat mengandung spora Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan botulisme pada bayi. Karena itu, madu sebaiknya tidak diberikan kepada bayi, baik secara langsung maupun dicampurkan ke dalam makanan atau minuman.
Jadi, Bagaimana MPASI yang Tepat?
MPASI mulai diberikan sekitar usia 6 bulan dengan tetap melanjutkan ASI. Makanan diberikan secara bertahap dengan memperhatikan tekstur, jumlah, frekuensi, keberagaman, serta kemampuan bayi.
Yang tidak kalah penting, pilih makanan yang kaya zat gizi dan utamakan sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging. Jangan lupa perhatikan kebersihan bahan, proses pengolahan, serta bentuk makanan agar aman dikonsumsi bayi.
Referensi
- Complementary Feeding: A Position Paper by the European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN) Committee on Nutrition (2017), Journal of pediatric gastroenterology and nutrition
- Complementary feeding | World Health Organization
- Kumpulan Esai Mitos Bayi dan Anak
- WHO Guidline for complementary feeding of infants and young children 6-23 months of age | World Health Organization
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


