Di banyak keluarga Indonesia, terutama pada masyarakat Jawa, istilah “iwak godok” atau ikan rebus menjadi menu akrab untuk balita. Ikan rebus dengan sedikit bumbu, terkadang ditambah santan encer atau sayuran, lalu disajikan dengan nasi lembut atau bubur. Tidak jarang, balita yang awalnya menolak ikan goreng atau ikan bakar justru lebih lahap saat disajikan ikan rebus. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Preferensi balita terhadap ikan rebus berkaitan dengan perkembangan sistem sensorik, kemampuan mengunyah dan menelan, serta karakteristik tekstur dan aroma ikan rebus yang lebih sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Perkembangan Sistem Sensorik Balita
Balita berada dalam fase perkembangan sensoris yang pesat. Indra pengecap, penciuman, dan peraba di rongga mulut masih belajar mengenali berbagai rasa, aroma, dan tekstur makanan. Pada usia ini, anak lebih sensitif terhadap rangsangan sensorik dibandingkan orang dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kepekaan tinggi terhadap tekstur dan aroma makanan. Tekstur yang terlalu keras, terlalu kenyal, terlalu berserat, atau aroma yang terlalu tajam dapat memicu penolakan, bahkan sebelum anak sempat mencicipi. Ikan rebus, dengan tekstur yang lembut dan aroma yang tidak terlalu menyengat, cenderung lebih diterima oleh sistem sensorik balita yang masih berkembang.
Tekstur Lebih Mudah Diterima
Tekstur merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi penerimaan makanan pada anak. Balita umumnya lebih menerima tekstur yang lembut, halus, dan mudah dikunyah dibandingkan tekstur yang keras, berserat kasar, atau kompleks. Tinjauan mengenai persepsi tekstur oral pada anak menyatakan bahwa bayi dan balita lebih mudah menerima tekstur yang lembut dan homogen, seperti pure, bubur, atau makanan yang direbus hingga lunak. Tekstur yang terlalu keras atau berserat memerlukan kemampuan mengunyah dan koordinasi oral yang lebih matang. Ikan rebus biasanya dimasak hingga dagingnya lunak, mudah hancur, dan tidak memerlukan upaya mengunyah yang besar. Hal ini membuatnya lebih diterima dibandingkan ikan goreng yang memiliki tekstur lebih padat, berkulit keras, atau memiliki bagian yang berserat.
Aroma Lebih Ringan
Aroma juga berperan penting dalam penerimaan makanan pada balita. Anak-anak memiliki indra penciuman yang lebih tajam dibandingkan orang dewasa, sehingga mereka lebih sensitif terhadap aroma yang kuat atau tidak biasa. Ikan, terutama jenis tertentu dapat menghasilkan aroma amis akibat senyawa trimetilamin (TMA) yang terbentuk setelah ikan mati. Semakin lama ikan disimpan atau semakin kurang segar, semakin kuat aroma amisnya. Proses perebusan dengan air, ditambah penggunaan bahan seperti jeruk nipis, jahe, atau bumbu aromatik lainnya dapat membantu mengurangi aroma amis. Ikan rebus yang dimasak dengan benar cenderung memiliki aroma yang lebih ringan dibandingkan ikan goreng atau ikan bakar yang aromanya lebih intens akibat proses pemanasan kering.
Rasa yang Lebih Netral
Ikan rebus umumnya dimasak dengan bumbu sederhana seperti garam, bawang, kunyit, serai, sedikit santan encer. Rasa yang dihasilkan cenderung lebih netral, tidak terlalu asin, tidak terlalu gurih, dan tidak terlalu tajam. Balita cenderung lebih menerima rasa yang tidak terlalu kuat. Rasa yang terlalu asin, terlalu gurih, atau terlalu tajam dapat memicu penolakan, Ikan rebus dengan bumbu ringan lebih sesuai dengan preferensi rasa balita yang masih belajar mengenali berbagai cita rasa.
Faktor Keamanan dan Proses Dicerna
Ikan rebus umumnya lebih mudah dicerna dibandingkan ikan goreng. Proses perebusan tidak menambahkan lemak tambahan, sehingga beban pencernaan lebih ringan. Bagi balita yang sistem pencernaannya masih berkembang, makanan yang lebih mudah dicerna dapat lebih nyaman diperut. Selain itu, ikan rebus yang dimasak hingga matang mengurangi risiko kontaminasi bakteri atau parasit yang mungkin masih ada pada ikan yang kurang matang. Keamanan pangan merupakan pertimbangan penting dalam pemberian makanan untuk balita.
Namun, preferensi ini tidak bersifat mutlak. Seiring bertambahnya usia dan perkembangan kemampuan makan, anak perlu diperkenalkan dengan variasi olahan ikan segar agar dapat menerima beragam tekstur dan rasa. Peran orang tua dalam menciptakan pengalaman makan yang positif dan tidak menekan sangat penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat jangka panjang.
Referensi
- Food Texture Acceptance, Sensory Sensitivity, and Food Neophobia in Children and Their Parents. (2021). foods MDPI Journal.
- Bagaimana Tekstur dan Bau Mempengaruhi Pilihan Makanan Anak – Continental Hospitals
- A review on children’s oral texture perception and preferences in foods. (2024). Critical Reviews in Food Science and Nutrition.
- Tanya-Jawab Soal Ikan Untuk MPASI Buah Hati Kita | cookpad
Editor: Hasna Nur Mufidah, S.Tr.Gz


