Makanan seperti kwetiau dan mi tentunya sudah tidak asing terdengar bagi masyarakat saat ini. Kedua makanan tersebut menjadi makanan yang populer dikonsumsi oleh remaja hingga orang dewasa karena mudah ditemukan, praktis, dan memiliki cita rasa yang beragam. Di tengah popularitasnya, muncul tanggapan bahwa kwetiau lebih sehat dibandingkan dengan mi. Tidak sedikit pula yang memilih kwetiau sebagai alternatif saat ingin mengurangi konsumsi mi dengan harapan memperoleh pilihan yang lebih sehat. Namun, benarkah tanggapan tersebut? Simak penjelasan berikut ini!
Kwetiau dan Mi, Apa Perbedaannya?
Kwetiau dan mi merupakan dua jenis hidangan yang sering dikonsumsi dengan penyajian yang beragam seperti kwetiau kuah, kwetiau goreng, mi goreng, mi rebus, mi ayam, dan lain sebagainya. Selain penyajian yang beragam, kedua makanan ini mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau. Mengenal tentang kwetiau, kwetiau sendiri berasal dari kalangan tionghoa dan kini menjadi makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Kwetiau dibedakan menjadi dua jenis yakni kwetiau basah dan kwetiau kering.
Berdasarkan bentuk penyajiannya, kwetiau basah memiliki masa simpan yang relatif lebih pendek dibandingkan kwetiau kering. Sebaliknya, kwetiau kering memiliki masa simpan lebih panjang terutama jika dikemas dalam wadah kedap udara. Kwetiau berwarna putih, berbentuk pipih, lebar, dan bertekstur kenyal. Adapun bahan dasar dari kwetiau adalah tepung beras. Berbeda dengan kwetiau, mi berbahan dasar tepung terigu sehingga mengandung jumlah gluten yang lebih tinggi. Dalam proses pembuatannya, beberapa jenis mi ditambahkan telur untuk meningkatkan tekstur dan kandungan protein. Perbedaan tersebut memengaruhi tekstur, cita rasa, kandungan gizi, dan karakteristik produk.
Perbandingan Kandungan Gizi Kwetiau dan Mi
Dari segi kandungan gizi, kwetiau berbahan dasar tepung beras dan mi berbahan dasar tepung terigu sama-sama mengandung karbohidrat dan berfungsi sebagai sumber energi. Kandungan protein pada mi umumnya lebih tinggi dibandingkan kwetiau karena tambahan telur pada proses pembuatannya. Kwetiau hampir tidak mengandung gluten sehingga lebih cocok dikonsumsi bagi seseorang dengan gluten intolarance. Namun, kedua makanan tersebut memiliki kandungan serat yang relatif rendah sehingga kurang mampu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Berdasarkan data USDA, setiap 100 gram kwetiau mengandung energi 364 kkal, protein 5,95 g, lemak 0,56 g, karbohidrat 80,2 g, dan serat 1,6 g. Sementara itu, dalam 100 g mi mengandung energi 384 kkal, protein 14,2 g, lemak 4,44 g, karbohidrat 71,3 g, dan serat 3,3 g.
Lalu, Mana Pilihan yang Lebih Sehat?
Kebanyakan orang beranggapan bahwa kwetiau lebih sehat dibandingkan dengan mi karena berasal dari beras. Anggapan ini sering kali membuat sebagian orang memilih kwetiau sebagai alternatif yang lebih baik bagi kesehatan. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar. Perlu diketahui bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari segi kandungan gizi, kwetiau memiliki keunggulan bebas gluten sehingga dapat menjadi pilihan bagi orang yang tidak mengonsumsi gluten. Namun, kandungan proteinnya cenderung lebih rendah dibandingkan mi.
Selain itu, kwetiau juga tergolong dalam makanan dengan indeks glikemik yang cukup tinggi. Indeks glikemik merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Semakin tinggi nilai indeks glikemik suatu makanan, semakin cepat pula peningkatan kadar gula darah setelah dikonsumsi sehingga seseorang dengan diabetes perlu memperhatikan batas dan jumlah konsumsi. Sebaliknya, mi memiliki kandungan protein lebih tinggi yang berperan dalam membantu pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Namun, mi mengandung gluten sehingga tidak cocok dikonsumsi bagi seseorang dengan kondisi tertentu.
Perlu Diperhatikan!
Faktor penentu makanan tersebut sehat atau tidak, bukan hanya dari bahan utamanya tetapi juga teknik pengolahan dan pelengkap makanan tersebut. Teknik pengolahan seperti menggoreng dengan minyak yang cukup banyak juga menjadi faktor yang menyebabkan makanan menjadi tidak sehat karena tingginya lemak. Selain itu, penggunaan bumbu penyedap seperti kecap, saus, dan lain sebagainya dapat menyebabkan asupan lemak, gula, dan natrium berlebih. Sebagai pelengkap makananan, tambahan makanan olahan seperti bakso, sosis, dan lain sebagainya juga meningkatkan kandungan kalori, gula, lemak, dan natrium.
Untuk menjadikan kwetiau dan mi sebagai hidangan yang lebih sehat, pilihlah teknik memasak seperti merebus untuk mengurangi asupan lemak berlebih. Lengkapi hidangan seperti telur, daging ayam, daging sapi, seafood, dan lain sebagainya sebagai pelengkap sumber protein. Perbanyak sayur untuk menambah asupan serat. Dengan demikian, hidangan semangkuk kwetiau atau mi yang dikonsumsi sesekali tidak menjadi masalah, selama dikonsumsi sesuai anjuran dan porsi dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Referensi
- Karakteristik Fisik dan Organoleptik Kwetiau Beras Merah (2025), Jambura Journal of Food Technology
- Noodles,egg, dry | USDA Food Central
- Rice noodles | USDA Food Central


